Showing posts with label Agama dan Negara. Show all posts
Showing posts with label Agama dan Negara. Show all posts

Saturday, October 19, 2024

Penistaan Agama, Kasus Roni Simamora

 

Penistaan Agama, Belajar dari Kasus Roni Simamora

 

Medsos bisa menampilkan siapa saja jadi pakar, secara khusus Pakar penciptaan kebenaran kebenaran baru, kebenaran yang dibangun berdasarkan persepsi, seperti yang dilakukan para Buzzer pemburu mammon. Itulah sebabnya kontroversi di medsos sangat keras.

Medsos adalah ruang public, sejatinya medsos menjawab kebutuhan public, tapi semangat pemburu mammon kerap tak malu-malu menggunakan medsos untuk memburu rente.

Kasus penodaan agama yang menyasar oknum berinisial RS di Deli Serdang, dan baru saja ditangkap polisi merupakan salah satu contohnya. Bukan rahasia demi memburu mammon banyak creator menciptaan sensasi dengan menciptakan kebenaran baru berdasarkan persepsi, hadirlah sang creator sebagai pakar ketika video karyanya viral. Apa keuntungannya bagi masyarakat?

Pemburu mammon, menggunakan media apapun, tentu akan merusak orang lain, masyarakat, dan dirinya sendiri, saya tidak paham apa motivasi RS membuat video-video yang menyerang agama tertentu, bukankah agama hanya bisa dipahami oleh pemeluk agama itu.

Debat-debat agama yang layaknya debat-debat dipanggung politik dengan membuktikan klaim agama tertentu itu absolut karena ada konsisitensi, dan agama lain tidak benar, atau diberikan label sesat karena tidak konsisten, atau tidak logis rasional hanya cocok berada dipanggung politik, atau debat ilmiah, bukan debat agama. Apalagi dengan melontarkan kata-kata bodoh, sesat bahkan sumpah serapah. Itulah sebabnya banyak anak muda menjauhi bicara agama, karena bicara agama sulit dilakukan secara santai, apalagi tanpa prasangka buruk.

Agama yang hanya dipahami berdasarkan iman itu boleh saja di didialogkan, tapi bukan dialok yang saling mengalahkan. Iman itu tidak memerlukan bukti, seperti layaknya pencarian kebenaran berdasarkan metode ilmiah. Jadi umat beragama tak perlu berang ketika tak mampu membuktikan apa yang diimani.

Iman agama seseorang tak akan hilang hanya karena orang beragama itu tidak dapat menjawab pertanyaan orang lain mengapa dia beriman kepada agama tertentu. Usaha kaum Ateis ataupun agnotisme yang menolak klaim-klaim agama tak akan mempengaruhi iman orang yang beragama, kecuali mereka yang menganut agama tertentu, tapi tak memiliki iman terhadap agama itu. Mungkin ini yang disasar dalam persaingan marketing agama.

Tapi jika mengamati video RS, dia bukan menolak agama seperti  serangan ateisme yang santun, yang hanya meminta bukti kebenaran agama. Bahkan klaim tokoh agama sebagai kebodohan pun dilihat berdasarkan kaca mata riset ilmiah yang berdasarkan data empiris.

Tapi, saya tidak paham kenapa RS mengkritik agama tertentu dan secara bersamaan RS juga beragama. Hal yang perlu diselidiki adalah mengapa dia memaksakan klaim agama tertentu itu salah, padahal agama adalah persoalan iman. Tapi apakah betul RS memiliki motovasi mengejar mammon dengan menghalalkan segala cara?

Memang ada yang mengatakan Tuhan tidak bisa dinista , tapi agama itu di kontruksi oleh manusia, juatru karena agama itu dikonstruksi manusia, maka komunitas agama itu menjadi identitas individu dalam komunitas itu. Maka menista agama, sama saja menista umat beragama, termasuk individu dalam komunitas agama itu.

Menurut saya agama-agama boleh saja meng klaim ajarannya sempurna dari Tuhan, tapi tak perlu menista mereka yang berbeda agama atau kepercayaan.

 https://www.binsarinstitute.id/2024/10/penistaan-agama-kasus-roni-simamora.html

 

Friday, September 20, 2024

Agama untuk perdamaian


 

Agama untuk perdamaian

Agama-agama itu kaya dengan nilai-nilai inclusive yang perlu untuk menguatkan perdamaian dalam kasih persaudaraan antarsesama umat manusia. Mengumandangkan nilai-nilai inclusive agama itu berrti menebarkan perdamaian dalam perjuangan menegakkan keadilan bersama.

Menggali dan mewartakan nilai-nilai inclusive agama tidak berarti melarang pemberitaan misi agama yang eksklusive, karena misi agama yang eksklusive itu juga berasal dari Tuhan yang satu, karena itu sejatinya mewartakan nilai-nilai inclusive agama tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai inclusive agama. Pemberitaan misi agama yang eksklusive tidak perlu menyinggung agama lain, apalagi merendahkannya, karena semua agama adalah interpretasi dari Sang Pencipta. Apalagi sang pencipta itu sendiri tidak menghakiminya, dan membiarkan interpretasi agama yang beragam itu hadir dengan segala keindahannya.

Menurut saya, pemberitaan misi agama yang eksklusif itu perlu dilandasi oleh nilai-nilai inclusive agama, sehingga pemberitaan misi agama merupakan wujud mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia. Artinya pemberitaan nilai-nilai inclusive agama perlu dilakukan secara damai, dan semangat persaudaraan umat manusia, tanpa semangat menghakimi, karena pemberitaan misi agama adalah pemberitaan kabar baik, dan baik untuk semua.

Melarang pemberitaan misi agama yang eksklusive sama saja mengabaikan identitas agama yang berbeda, dan itu merupakan pembelengguan kebebasan beragama. Sebailknya memberitakan misi agama yang eksklusif tanpa landasan nilai-nilai inklusif agama berarti mengabaikan semangat persaudaraan sebagai sesama ciptaan Tuhan yang satu.

Apabila perumusan kebijakan publik berlandaskan pada nilai-nilai bersama, tentulah kebijakan itu anti deskriminatif dan menjadi kebijakan unggul yang menghadirkan perdamaian bagi semua. Demikian juga kebijakan politik terkait agama, perlu dilandasi semangat persaudaraan sebagai sesama ciptaan Tuhan yang memberikan kebaikan bagi semua.

Semangat pemberitaan eksklusive agama adalah semangat perdamaian, mendamaikan manusia dengan sang pencipta, dan sejatinya berisi semangat perdamaian sebagai sesame ciptaan Tuhan. Agama adalah untuk perdamaian!

Dr. Binsar Antoni Hutabarat

 https://www.binsarinstitute.id/2024/09/agama-untuk-perdamaian.htm

https://hop.clickbank.net/?affiliate=bin34&vendor=prftavngrs&pid=pam1 

Thursday, September 19, 2024

Nilai eksklusive agama

Satu Tuhan banyak agama

 

young lady learning to play the piano with beginners piano lessons

BELAJAR PIANO, KLIK DISINI1 

Dialog agama sejatinya tak boleh meminggirkan nilai-nilai eksklusive agama. Menurut saya dialog yang hanya berada pada tataran nilai-nilai inklusive agama adalah dialog yang semu, dan tak akan membawa pemahaman yang baik terhadap keragaman agama-agama.

Nilai-nilai eksklusive agama perlu dibuka dengan jujur pada dialog antar agama, karena nilai-nilai eksklusive itulah yang membedakan agama-agama. Saya setuju apa yang dikatakan Paus Fransiskus, bahwa keragaman agama-agama adalah sebuah anugerah Tuhan.

Mengapa niai-nilai ekklusive agama-agama perlu diungkapkan dalam dialog antar agama?

Dialog antar agama itu mungkin karena ada keyakinan satu Tuhan banyak agama, sehingga pluralisme diartikan sebagai perjalanan agama-agama yang berbeda itu untuk mendapatkan titik pijak bersama tanpa menihilkan identitas agama-agama yang berbeda.

Melepaskan nilai-nilai eksklusive agama sama saja dengan menyeragamkan agama-agama, dan tidak mungkin terjadi perjumpaan agama-agama yang jujur.

Nilai-nilai ekklusive agama sesungguhnya adalah anugerah Tuhan, yang Maha kuasa itu berkenan dikenal oleh agama-agama dengan segala keterbatasannya. Bahkan nilai-nilai eksklusive agama-agama itu merrupakan perekat individu dan komunitas agama tertentu.

Individu menemukan identitasnya dalam komunitasnya. Sehingga agama yang berbeda itu dapat bersama-sama individu-individu dalam suatu komunitas membangun identitas komunalnya.

Nilai-nilai ekslusive agama itu pada sisi yang lain dapat menguatkan kebersamaan individu dalam satu komunitas, dan nilai-nilai eksklusive bersama pada komunitas agama itu akan membenyuk identitas eksklusive agama.

Niai-nilai eksklusive akan menguatkan individu yang disatukan dalam komunitas yang satu, dalam komunitas itulah individu itu memiliki identitasnya, untuk selanjutnya  dapat memberikan peran positifnya dalam ruang public. Ruang agama-agama yang berbeda itu saling belejar dan bekerja sama untuk membangun dasar bersama , membangun dunia sejahtera bersama dalam dunia milik Tuhan yang satu.

Mengabaikan nilai-nilai eksklusive agama sama saja dengan menyangkali keberagaman agama-agama, sebaliknya menghargai nili-nilai eksklusive agama akan memperkaya pemahaman agama-agama tentang yang lain, dan tentu saja agama itu sendiri.

 

Dr. Binsar Antoni Hutabarat

 

https://www.binsarinstitute.id/2024/09/nilai-eksklusive-agama.html 

Wednesday, September 18, 2024

Pluralisme agama

 young boy learng piano with beginners piano lessons

 KLIK DISINI!

Memahami pluralisme agama secara baru

 

Pluralisme agama menurut saya lebih baik dipahami sebagai pengakuan bahwa agama-agama itu pada realitasnya berbeda, tetapi sama-sama mengakui adanya Tuhan yang satu, untuk Indonesia istilah Pluralisme agama itu dinyatakan dalam pernyataan sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Agama-agama yang berbeda itu berjalan bersama di atas dasar niai-nilai agama yang eksklusif dan inklusif, dan terus memperkaya diri dalam perjumpaan-perjumpaan yang saling memperkaya diri dengan berpegang pada nilai-nilai inklusif agama, dan secara bersamaan menguatkan nilai-nilai eksklusif agama yang berbeda itu.

Perjumpaan agama-agama yang jujur menurut saya adalah keterbukaan akan adanya nilai-nilai eksklusif agama, dan secara bersamaan juga dapat bergaul dengan jujur dengan agama-agama yang berbeda karena semua agama-agama itu pada realitasnya memang memiliki nilai-nilai inklusif.

Nilai-nilai eksklusif agama perlu diakui dengan jujur, karena itu adalah perjumpaan khusus individu atau komunitas agama tertentu dengan Tuhan. Namun perlu diakui bahwa nilai-nilai itu absolut untuk diri individu atau komunitas agama itu , dan tidak perlu dipaksakan kepada yang lain.

Nilai-nilai agama itu absolut relative, absolut karena merupakan pengalaman nyata perjumpaan individu ata komunitas agama itu, tapi tak dapat digeneralisasi apalagi dipaksakan untuk semua. Pengalaman subyektif hanya benar untuk mereka yang mengalaminya, namun agama yang berbeda tidak perlu menjadi hakim mana agama yang benar dan mana yang salah.

Biarlah Yang Maha Kuasa itu yang akan menghakimi mana agama yang benar, bukan manusia yang terbatas. Cerita Natan yang bijaksana mungkin perlu diangkat kembali untuk memperkaya perjumpaan agama-agama pada saat ini.

Menurut saya pemahaman terkait pluralism agama menjadi penting untuk menghadirkan perjumpaan agama-agama dalam menghadirkan nilai-nilai bersama yang menjadi pijakan bersama agama-agama yang berbeda itu untuk bergaul dengan saling menghargai sebagai sesama ciptaan Tuhan.

Dr. Binsar Antoni Hutabarat

 

 https://www.binsarinstitute.id/2024/09/pluralisme-agama.html

Saksi-Saksi Iman Sepanjang Sejarah

  Saksi-Saksi iman Ibrani 11:1-6, Kejadian 4 : 26, Kejadian 5: 21-23   Pendahuluan. Kitab Ibrani pasal 11 secara runtut menjelaska...