Wednesday, January 31, 2024
Teologi Ilmiah vs Klaim Absolut
Tuesday, January 30, 2024
Ditinggalkan Allah
Ditinggalkan Allah? Religious
Teriakan Yesus saat di salib, AllahKu...AllahKU...Mengapa Engkau Meninggalkan AKU....
menanamkan kesan mendalam bukan hanya perihal ngerinya hukuman dosa yang ditanggung Yesus di kayu salib, tapi itu adalah realitas kengerian nasib manusia yang meninggalkan Allah.
Kegelapanm penderitaan, maut menjadi amat menakutkan. Syukurlah, ketakutan itu telah ditanggung oleh Yesus, dan kita tak perlu menerima hukuman kekal yatng amat mengerikan.
Pelukisan penyaliban Yesus amat mengerikan. Pelukisan rasa sakit yang dapat kita baca dalam ktab Injil tetap saja tak mampu menyingkapkan hakikat kengerian penderitaan Yesus. Makian yang tak patut diterima Yesus dari mereka yang menyalibkan Yesus, hingga kedasyatan alam yang merespons tragedi memilukan, menjadi misteri yang tak akan terkuak tuntas. Tetapi. semua itu hanya cukup menolong manusia mengetahui sedikit tentang besarnya kasih dan keadilan Allah. Siapa yang sanggup memahaminya?
Kegelapam yang menutupi sekitar penyaliban Yesus, Gempa bumi, hingga peristiwa tidak biasa terkait kebangkitan orang-orang kudus dari kubur, yang tak bisa kita pahami dengan sempurna, terkoyaknya tirai bait Allah. Semua kejadian dasyat itu menggetarkan mereka yang punta nurani. Tapi, bagi mereka yang bernafsu menyalibkan Yesus, kejadian tak biasa itu hanya menjadi pengganggu sementara,
Yesus memang tidak mati karena nafsu manusia yang ingin menyalibkannya, bukan juga karena kebuasan Iblis. Yesus mati karena kasih Nya. Keadilan Allah digenapi dalam kerelaan Yesus mati di salib untuk menebus dosa manusia. Siapa yang sanggup memahaminya?
Janganlah kiranya kita ditinggalkan Allah, karena kegeapana dan kengerian hukuman maut tak kuat kita menanggungnya, syukurlah Yesus Kristus telah menanggung hukuman dosa itu, dan kita tidak ditinggalkan Allah.
https://www.binsarinstitute.id/2023/04/ditinggalkan-allah.html
Tuesday, April 4, 2023
Memperingati Kenaikan Yesus Ke Surga
Memperingati Kenaikan Yesus Ke Surga
Memperingati kenaikan Yesus ke Surga secara bersamaan juga berarti mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Yesus kembali.
Injil Lukas menjelaskan, “Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicata kepada mereka tentang Kerajaan Allah.”(Kisah Para Rasul 1:4)
Setelah kebangkitan, Yesus menampakkan diri kepada murid-muridnya secara berulang-ulang. Artinya, murid-murid Yesus tidak melihat Yesus secara sekilas, tetapi dalam waktu yang cukup lama, dan murid-murid melihat Yesus secara berulang-ulang selama empat puluh hari sebelum kenaikan Yesus ke Surga. Kebangkitan Yesus benar-benar nyata, murid-murid Yesus adalah saksi-saksi hidup.
Yesus menjelaskan bahwa kedatangan-Nya adalah membawa Kerajaan Allah, dan kerajaan Allah yang dibawa oleh Yesus itu telah mengalahkan kerajaan kegelapan. Melalui kematian Yesus dikayu salib, kegelapan, Iblis, dosa tidak lagi berkuasa atas mereka yang percaya. Mereka yang percaya kepada Yesus dipindahkan dari kerajaan kegelapan untuk masuk dalam kerajaan Allah.
Murid-murid Yesus sempat bertanya kepada Yesus, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi israel?”(Kisah Para Rasul 1:7). Yesus menjawab, :Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.”
Bagaimanakah manifestasi kerajaan Allah yang dihadirkan Yesus, dan mengapa murid-murid Yesus masih berharap agar Yesus memulihkan kerajaan bagi Isarel?
Kerajaan Allah
Yesus berkata, “ Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” (Matius 28: 18). Selanjutnya, Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk menjadikan segala bangsa Murid Yesus. Sebagai jaminan atas perintah itu Yesus menjanjikan penyertaan-Nya sampai akhir zaman.
Manifestasi kerajaan Allah secara wilyah belum nampak secara nyata, kejahatan, dosa masih merajalela. Orang-orang benar hidup menderita, orang-orang fasik bertindak semena-mena dan mengalami keberuntungan. Pertanyaannya kemudian, dimanakah kerajaan Allah yang dibawa Yesus ke bumi?
Yesus memang telah datang membawa kerajaan Allah dengan mati di kayu salib, memindahkan mereka yang percaya kedalam kerajaan Allah, serta memberikan Roh Kudus kepada mereka yang percaya untuk menolong orang percaya hidup secara benar sebagai warga kerajaan Allah.
Namun, kerajaan kegelapan masih ada di dunia. Iblis dengan pengikut-pengikutnya belum dibuang ke dalam api yang kekal. Itulah sebabnya mereka yang rohani, hidup sebagai warga kerajaan Allah mengalami pergumulan hidup didunia, Mengalami perlawanan dari mereka yang menjadi alat kegelapan, iblis yang masih diijinkan Tuhan hadir di dunia.
Pada saat kedatangan Yesus yang kedua, Yesus akan datang sebagai hakim untuk memisahkan mereka yang menjadi warga kerajaan Allah dari mereka yang hidup sebagai warga kerajaan kegelapan. Itulah sebabnya kedatangan Yesus yang kedua, merupakan sukacita besar bagi warga kerajaan Allah yang sedang menantikan kedatangan Raja mereka.
Sebaliknya bagi mereka yang hidup dalam kerajaan kegelapan, kedatangan Yesus yang kedua sebagai hakim, merupakan peristiwa yang amat menakutkan, karena pada waktu itu Yesus akan melemparkan kerajaan kegelapan kedalam api yang kekal.
Bagi orang percaya, memperingati kenaikan Yesus adalah sebuah sukacita besar, karena Yesus yang mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa manusia itu benar-benara hidup. Selama empat puluh hari berulang-ulang dan banyak murid Yesus menyaksikan Yesus yang bangkit dari kematian.
Pada peristiwa kenaikan, murid-murid menyaksikan kenaikan Yesus. Malaikat Tuhan menjelaskan, bahwa Yesus yang naik kesurga itu akan datang kembali dengan cara yang sama. Perkataan malaikat itu memastikan bahwa kedatangan Yesus juga merupakan peristiwa nyata. Kebenaran itu diteguhkan ketika murid-,murid menerima Roh Kudus yang dijanjikan Yesus setelah kenaikan Yesus ke surga.
Kerajaan Allah itu sudah datang dibawa Yesus, dan kerajaan Allah telah menaklukan kerajaan kegelapan, dan manifestasi kerajaan Allah itu secara sempurna akan terjadi pada waktu kedatangan Yesus kembali sebagai raja.
Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan.
Dr. Binsar A. Hutabarat
Wednesday, February 1, 2023
Iman, Pengharapan, dan Kasih
Iman, Pengharapan, dan Kasih
![]() |
| Danau Toba.Dokumen pribadi |
Tak ada gereja yang sempurna, sendainya pun anda menemui gereja yang sempurna, janganlah bergabung dengan gereja yang sempurna itu, karena akan membuat gereja itu tidak sempurna dengan kehadiran anda.
Ungkapan itu tidak membuktikan tentang adanya gereja yang sempurna, sebaliknya mengokohkan bahwa sesungguhnya tak ada gereja yang sempurna. Karena Gereja adalah umat pilihan Allah yang terus belajar dan bertumbuh menjadi seperti Kristus.
Dalam Perjanjian baru memang ada kelompok umat Allah, gereja lokal yang bertumbuh menjadi seperti Kristus dengan mengikuti ajaran Firman Tuhan yang disampaikan para Rasul. Salah satunya adalah pertumbuhan rohani jemaat di Tesalonika.
Jemaat di Tesalonika, adalah salah satu gereja lokal yang membuat Rasul Paulus bersyukur kepada Tuhan karena melihat pertumbuhan kehidupan rohani jemaat itu yang merespon pemberitaan Firman Tuhan yang disampaikannya,
Paulus bersyukur atas anugerah Tuhan yang berkarya di dalam Jemaat Tesalonika. Kehidupan Jemaat Tesalonika yang mengalami perubahan hidup ketika menerima pemberitaan Firman Tuhan melalui Paulus adalah karya pemilihan Allah atas Jemaat di Tesalonika.
Kehidupan rohani yang ditampilkan dalam kehidupan jemaat Tesalonika itu semata-mata adalah karena anugerah Allah “Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab, Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai” (2 Tesalonika 2:13).
Paulus mengetahui bahwa kasih Allah telah memilih jemaat di Tesalonika yang terbukti melalui kehidupan jemaat Tesalonika yang mengalami perubahan hidup, utamanya nyata dalam Iman, Pengharapan dan Kasih yang tampak dalam kehidupan Jemaat.
Mereka yang dipilih Allah mengalami perubahan hidup. Meski itu tidak berarti orang pilihan Allah itu telah sempurna, tetapi mereka memiliki kehidupan baru yang tak dapat disembunyikan.
Iman, Pengharapan dan Kasih adalah bukti kebajikan utama Kristen yang menjadi bukti keselamatan. Meski itu bukan dasar untuk menyombongkan diri, sebaliknya adalah dasar untuk mengucap syukur kepada Allah.
Iman.
Sejatinya iman itu harus memimpin pada pekerjaan, Iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2: 14-26). Kita tidak diselamatkan oleh iman dan perbuatan. Tapi oleh iman kepada Yesus Kristus yang menghasilkan perbuatan. Tanpa perbuatan, iman bukanlah iman. Yakobus menyebutnya iman yang mati. Orang-orang di Galatia hanya menyembah Allah yang telah memilih mereka untuk diselamatkan.
Kasih.
Kasih adalah bukti keselamatan. “Dan Pengharapan tidak mengecewakan, karena Kasih Allah telah ducurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Roma 5:5). Dan umat Kristen diajar oleh Allah untuk mengasihi satu dengan yang lain.
“Tentang Kasih persaudaraan tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah” ( I Tesalonika 4: 9). Umat Kristen melayani Allah karena mengasihi Allah, dan itu adalah pekerjaan kasih. Yohanes 4:5 menjelaskan, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”
Pengharapan
Bukti yang ketiga adalah “Pengharapan”, yaitu pengharapan menunggu kedatangan Yesus yang kedua kali. “Dan untuk menantikan kedatangan Anak-Nya dari sorga, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati, yaitu Yesus, yang menyelamatkan kita dari Murkanya yang akan datang” (I Tesalonika 1:10).
Kedatangan Yesus yang kedua kali adalah tema utama dalam kitab satu dan dua Teslonika. Kedatangan Yesus yang kedua kali adalah pengharapan bagi orang percaya untuk hidup selama-lamanya di surga kekal.
Kebaijkan utama Kristen, Iman, Pengharapan dan Kasih adalah batu ujian untuk umat Kristen yang mengklaim diri sebagai orang pilihan Allah. Kualitas-kualitas rohani itu merupakan pemberian Allah. Jika kualitas-kualitas rohani itu ada pada orang percaya, maka kita perlu bersikap seperti Paulus, bersyukur atas anugerah pemilihan Allah itu.
Dr. Binsar Antoni Hutabarat
https://www.binsarhutabarat.com/2023/02/iman-pengharapan-dan-kasih.html
Tuesday, January 31, 2023
Membangun Hidup Harmoni
![]() |
| Air Terjun Bonan Dolok Samosir, Sumut.doc.pribadi |
Umat Kristen percaya kepada Juru selamat yang sama, dan memiliki tujuan yang sama yaitu untuk memuliakan Yesus yang sama, juga merindukan surga yang sama. Umat Kristen memiliki Bapa yang sama, mengusahakan pekerjaan pelayanan yang sama, yakni misi Allah.
Selain itu orang Kristen memiliki teladan yang sama untuk hidup dalam kekudusan yakni Yesus Kristus. Meski kita mengerjakan perbedaan yang berbeda dalam organisasi gereja yang berbeda, gereja beragam denominasi itu memiliki banyak kesamaan. Karena itu sejatinya umat Kristen harus hidup mengasihi satu sama lain untuk mempromosikan hidup bersama dalam harmoni.
Sebelum kembali kepada Bapa, Yesus mengatakan, “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya (Yohanes 17:4). Kehadiran Yesus di dunia, lahir, mati disalibkan, bangkit dari kematian dan naik ke surga adalah dalam rangka menjalankan Misi Allah Bapa yakni mengerjakan transformasi manusia berdosa dengan cara menebus manusia dari budak dosa menjadi budak kebenaran. Penebusan dosa manusia itu dikerjakan Yesus pada kayu salib. Yesus yang tidak berdosa dijadikan dosa untuk menanggung dosa manusia.
Pekerjaan Kristus dalam menjalankan Misi Bapa sudah selesai. Selanjutnya Murid-murid diperintahkan oleh Yesus untuk memberitakan kabar sukacita tentang penebusan dosa kepada dunia, inilah misi gereja.
Dunia saat ini tidak dapat melihat Yesus, tetapi dunia dapat melihat orang yang percaya kepada Yesus. Dunia akan melihat Yesus yang adalah juruselamat umat Kristen apabila umat Kristen itu hidup bersama dalam harmoni.
Yesus memahami, kehidupan harmoni sesama umat Kristen sebagai saksi kematian dan kebangkitan Yesus merupakan hal penting agar dunia dapat mengenal Yesus, karena itu Yesus berdoa agar murid-muridnya untuk hidup dalam kesatuan.
Yesus juga mendoakan hal yang sama untuk mereka yang percaya kepada pemberitaan murid-murid Yesus, “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yohanes 17: 20-21).
Murid-murid Yesus dalam hidup bersama kerap tidak menunjukkan persatuan, mereka egois, selalu ingin menonjol dari murid yang lain. Tindakan muirid-murid itu tentu melukai hati Yesus sebagai guru mereka, dan Yesus berdoa, meminta kepada Bapa, supaya murid-murid hidup bersama dalam harmoni. Yesus juga berdoa untuk mereka yang percaya kepada pemberitaan murid-murid-Nya agar mereka hidup bersama dalam harmoni.
Doa Tuhan Yesus masih relevan bagi gereja masa kini, juga bagi gereja di Indonesia yang belum mampu menghargai banyak kesamaan umat Kristen, tetapi lebih menonjolkan perbedaan denominasi gereja.
Hidup bersama dalam harmoni menjadi pergumalan umat Kristen pada masa lalu, dan juga pada masa kini. Perselisihan, perpecahan menjadi biasa dalam kehidupan gereja masa lalu, juga gereja masa kini. Kemudian, apakah doa Tuhan Yesus tidak perlu lagi kita perhatikan dalam hidup bersama umat Kristen?
Bila kita melihat gereja masa kini, setidaknya sebagaimana misi gereja yaitu Koinonia, Diakonia, dan Marturia, gereja terpecah karena menekankan misi tertentu dalam keunikan denominasi, dan kemudian mengabaikan kesamaan yang jauh lebih besar. Ironisnya, dalam setiap denominasi gereja itu kemudian lebih menonjolkan perbedaan dan mengabaikan persamaan yang jauh lebih kaya.
Gereja yang menekankan koinonia atau persekutuan orang percaya kemudian mereduksi makna persekutuan orang percaya menjadi persekutuan gereja dengan doktrin yang sama, padahal doktrin itu sendiri relatif. Akibatnya, gereja dengan doktrin berbeda tidak mungkin memiliki persekutuan.
Usaha keesaan gereja menjadi semakin sulit karena persekutuan orang percaya tidak lagi didasarkan kepada Yesus yang adalah kepala gereja, tetapi dari doktrin gereja. Gereja saling menyesatkan satu dengan yang lainnya, dan enggan menjalin persekutuan yang indah antarumat Kristen.
Lagu tentang “ku tak tahu kau dari gereja mana asalkan beralas Kristus” tidak lagi didengungkan semua gereja, karena gereja yang merasa berada dalam jalan yang benar, memiliki doktrin yang benar enggan menjalin persekutuan dengan mereka yang memiliki doktrin yang berbeda.
Gereja bukan hanya saling menyesatkan, tapi gereja juga saling mempertobatkan, istilah yang tersohor adalah, memperebutkan anggota jemaat, atau “merebut domba” gereja lain, untuk membesarkan gereja tertentu. Perpindahan anggota gereja tentu tidak ada salahnya, karena perpindahan anggota gereja ke gereja lain adalah hak asasi manusia. Tapi, gereja tidak perlu saling menghambat perkembangan gereja lain.
Demikian juga gereja yang menekankan pada penginjilan kemudian akan menyerang mereka yang tidak secara aktif melakukan penginjilan. Misi selanjutnya direduksi hanya menjadi pekabaran Injil. Padahal, pekabaran Injil adalah bagian dari misi gereja.
Setiap gereja ingin menampilkan diri sebagai gereja yang paling menaati perintah Yesus dalam menjalankan amanat agung. Herannya, gereja yang merasa menjalankan agung dengan aktif memberitakan injil mengejek gereja yang menekankan kehadiran sebagai kesaksian Kristen. Padahal Misi Kristen amat luas, kehadiran gereja dalam pemerintahan Indonesia untuk membangun pemerintahan yang bersih itu juga misi gereja, mengapa misi gereja harus direduksi?
Demikian juga gereja yang menekankan Diakonia sebagai aktivitas gereja yang paling relevan pada jaman ini mengejek gereja yang menekankan kepada penginjilan sebagai gereja yang tidak menginjakkan kaki di bumi.Gereja yang tidak peduli dengan penderitaan sesama manusia.
Gereja yang beragam memiliki pelayanan yang berbeda, tapi tujuannya sama, yakni menjalankan Misi Bapa untuk membawa dunia memuliakan Allah dan hidup dalam kasih, keadilan, dan kebenaran.
Gereja yang beragam dengan denominasi yang beragam sepatutnya melihat kesamaan yang begitu besar dalam kehidupan umat Kristen, bukannya membesar-besarkan perbedaan, dan kemudian saling menghancurkan satu sama lain.
Perselisihan, perpecahan gereja harus diakui menunjukkan kegagalan gereja. Gereja-gereja tidak perlu mencari pembenaran untuk membenarkan yang salah yakni perselisihan dan perpecahan antar orang percaya. Tapi, persoalannya sekarang, masih relevankah doa Tuhan Yesus dalam Injil Yohanes, Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku didalam Engkau”. Sebuah kesatuan yang amat erat, tanpa menegasikan perbedaan. Keragaman gereja adalah kekayaan, dan kekayaan dari keragaman gereja itu hanya bisa kita nikmati dalam hidup bersama yang harmoni.
https://www.binsarhutabarat.com/2023/01/membangun-hidup-harmoni.html
Monday, October 18, 2021
Pemerintahan Manusia Durhaka
Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa, yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah.
2 Tesalonika 1: 3-4)
Sejarah berada dalam Tangan Tuhan. Rencana Allah berlaku dalam setiap perjalanan sejarah. Karena itu, drama kehadiran manusia durhaka juga berada dalam kendali Allah.
Gereja perlu mengusahakan keadilan dan perdamaian di dunia, sampai waktunya dunia tidak bisa menerima kehadiran gereja, dan pada saat itulah Allah akan mengangkat gereja, menyelamatkan gereja dari aniaya pemerintahan manusia durhaka yang menganiaya gereja.
Manusia durhaka dan antikristus
Paulus tidak menggunakan istilah Antikristus dalam surat Tesalonika. Istilah Antikristus hanya digunakan oleh Yohanes. Namun, kata antikristus dalam surat Yohanes menunjuk pada manusia durhaka dalam surat Tesalonika.
“Anak-anakku, waktu itu adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus.Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir (I Yohanes 2: 18).
Siapakah Pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.(I Yohanes 2:22).
Dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar bahwa ia akan datang dan sekarang ia sudah ada di dalam dunia. (I Yohanes 4:3).
Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, itu adalah penyesat dan antikristus. (2 Yohanes 7).
Antikristus dalam surat-surat Yohanes itu jelas menunjuk pada apa yang Paulus sebut manusia durhaka. (2 Teslonika 2:3,8). Kehadiran manusia durhaka itu atau antikristus mendahului kedatangan Yesus yang kedua kali.
Manusia durhaka ingin disembah dan dilayani seperti Allah
Iblis telah berperang dengan Allah dan mencoba mengambil mahkota Allah, tapi, Iblis dikalahkan. Mengenai kejatuhan Iblis ini kitab Yesaya menjelaskan demikian, “Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang menglahkan bangsa-bangsa! Engkau tadinya berkata dalam hatimu; Aku hendak naik kelangit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah, dan hendak duduk di atas bukit pertemuan, jauh disebelh utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Maha Tinggi! Sebaliknya, kedalam dunia orang mati engkau diturunkan , ketempat yang paling dalam di liang kubur.” (Yesaya 14: 12-15).
Iblis yang telah jatuh itu, dibuang ke bumi, kemudian mencobai Adam dan Hawa, mengakibatkan Adam dan Hawa jatuh di dalam dosa. Kemudian Allah menyatakan perang melawan Iblis dan pengikutnya. Dan pada akhir zaman, Iblis dan pengikut-pengikutnya akan ditaklukkan oleh Allah dan masuk dalam hukuman kekal.
Demikian juga dengan manusia durhaka yang dijelaskan Paulus. Manusia durhaka yang dikendalikan Iblis itu adalah orang yang melawan Allah, dan menempatkan dirinya seperti Allah, ingin disembah dan dilayani seperti Allah.
Sebagaimana Iblis ingin disembah dan dilayani seperti Allah, maka demikian juga dengan manusia durhaka atau antikristus. Manusia durhaka itu bukan hanya melawan Allah, tetapi juga menempatkan dirinya sebagai Allah dan ingin disembah dan dilayani seperti Allah.
Kemudian, manusia durhaka yang dikendalikan Iblis itu akan membawa dunia untuk menyembah Iblis, serta percaya terhadap kebohongan Iblis. Karena Iblis adalah Bapa segala dusta. Disini jelas, antikristus bisa merupakan pribadi, tokoh tersohor, pemimpin pemerintahan yang menempatkan diri pada singgasana Allah. Ingin disembah dan dilayani seperti Allah.
Mewaspadai kehadiran manusia durhaka
Orang percaya yang sudah menerima pengampunan dosa melalui kematian Kristus di kayu salib, menyadari bahwa hidupnya adalah milik Allah. Segala sesuatu yang dilakukan oleh orang percaya adalah untuk memuliakan Allah, dengan hidup dalam keadilan dan kebenaran.
Manusia dapat hidup adil, benar dan memuliakan Allah hanya karena anugerah Allah. Karena itu hidup orang percaya harus dikuasai Roh Kudus dan tiap-tiap hari bersandar kepada Kuasa Roh Kudus untuk mengerjakan tugas misi Allah.
Gereja yang hidup dalam Allah, dipenuhi Roh Kudus inilah yang menahan kejahatan, baik melalui kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat maupun partisipasi gereja dalam pemerintahan, yakni membawa pemerintahan yang menjalankan keadilan Allah.
Sedang mereka yang menolak kebenaran, menyerahkan hidup mereka pada kejahatan, atau mengikuti manusia durhaka. Mereka akan menyombongkan dusta dan kejahatan.
Ketika waktunya genap, manusia durhaka itu menyatakan diri bersama-sama dengan pengikutnya, dan pada waktu itulah Tuhan akan mengangkat gereja dari dunia yang jahat untuk berjumpa dengan Tuhan, masuk dalam Kota Allah yang kudus, dan pada waktu yang sama, menghukum manusia durhaka dan pengikutnya, beserta Iblis untuk menerima hukuman kekal dari Allah yang maha kuas.
Dr. Binsar Antoni Hutabarat
https://www.binsarhutabarat.com/2020/09/drama-pemerintahan-manusia-durhaka.html
Saturday, July 31, 2021
Allah Hakim Yang Adil
Allah Hakim Yang Adil
Jadi Bagaimana? Adakah kita mempunyai kelebihan dari pada orng lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah kuasa dosa. (Roma 3:9)
Dosa adalah kuasa, manusia melakukan perbuatan-perbuatan dosa karena berada dalam kuasa dosa. Sebaliknya manusia melakukan kebenaran karena kuasa Allah yang memampukan manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan kebenaran, yang telah membebaskannya dari perbudakan dosa.
Gereja tidak boleh jatuh pada kesombongan seperti orang Yahudi yang membanggakan diri sebagai orang pilihan Allah, menerima Taurat, tapi tidak hidup mentaati Taurat.
Semua manusia sama dihadapan Tuhan
Orang Yahudi memiliki keuntungan karena menerima Taurat, melalui Taurat orang Yahudi harusnya menyadari bahwa manusia tidak dapat mentaati Taurat secara sempurna dengan kekuatannya sendiri, karena itu Taurat mempersiapkan orang Yahudi untuk menerima pengorbanan Kristus di kayu salib (lihat Kitab Galatia) .
Melalui menerima pengorbanan Kristus di salib (menerima Injil) orang-orang yahudi diselamatkan karena anugerah Allah, yang memerdekakan mereka untuk hidup melayani Tuhan , melakukan perbuatan-perbutan kebenaran.
Yesu mati menanggung dosa manusia, dan kebangkitan Yesus merupakan proklamasi bahwa maut telah dikalahkan, dan tidak lagi berkuasa atas mereka yang percaya. Orang percaya dibebaskan dari kuasa dosa, untuk melakukan perbuatan-perbuatan kebenaran.
Menerima pengorbanan Kristus di salib, menerima Injil harus hidup dalam ketaatan pada Allah, itulah sebabnya kita perlu berdoa untuk tiap-tiap hari dipimpin oleh Roh Kudus untuk melakukan perbuatan-perbuatan kebenaran.
Berkat-berkat Allah yang dianugerahkan Allah kepada orang Yahudi bukan merupakan kelebihan orang Yahudi, karena itu tak perlu menjadi sombong, sebaliknya dengan rendah hati datang kepada Tuhan, menerima karya Kristus di kayu salib dan hidup dipenuhi Rph Kudus untuk hidup melakukan perbuatan-perbuatan kebenaran.
Surat Roma diberikan juga kepada jemaat di Roma yang sebagian berasal dari bangsa-bangsa bukan Yahudi, bangsa Yunani. Alkitab mengatakan, bahwa semua orang berada dalam kuasa dosa.
Sejak Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa, maka didalam Adam semua manusia dalam perbudakan dosa, dan gemar melakukan perbuatan-perbuatan dosa. Tapi setelah pengorbanan Kristus di salib yang membebaskan manusia dari perbudakan dosa, termasuk orang Yunani, maka mereka yang percaya kepada pengorbanan Kristus di salib, berita Injil, dibebaskan dari perbudakan dosa, masuk dalam kerajaan Allah yang kekal, yang akan dinyatakan pada kedatangan Yesus yang kedua kali untuk menjemput orang-orang yang percaya.
Allah adalah hakim yang adil
Allah menghakimi semua manusia secara adil, Allah menghakimi manusia sesuai standar Allah, yaitu dengan kebenaran. Allah menghakimi manusia berdasarkan perbuatan.
Manusia yang percaya kepada Yesus, dan mengakui sebagai umat pilihan Allah, masuk sebagai anggota gereja tidak boleh sombong, tapi dengan takut dan gentar melayani Allah, dan memohon anugerah Allah untuk dipimpin Roh Kudus melakukan perbuatan-perbuatan kebenaran.
Bukan hanya orang Yahudi yang tidak boleh sombong, orang Yunani yang berada dalam jemaat di Roma juga tidak boleh sombong, tapi mereka semua harus dengan rendah hati memohon kepada Allah untuk dapat hidup dalam kebenaran.
Hidup orang yang dibenarkan adalah hidup dalam ketaatan pada Allah dengan memohon, dan menyediakan diri untuk dipimpin Roh Kudusm hidup melakukan perbuatan-perbuatan kebenaran.
Hidup menyaksikan Injil, bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan hidup yang dipimpin okeh Roh Kudus, Hidup menjadi teladan bagi semua orang, dengan hidup seperti Yesus.
Dr. Binsar Antoni Hutabarat
https://www.binsarhutabarat.com/2021/07/allah-hakim-yang-adil.html
Thursday, July 29, 2021
Mengasihi Tuhan Lebih Dari Segalanya
Mengasihi Tuhan Lebih Dari Segalanya
Tiap orang percaya mesti membuat keputusan satu kali dan untuk mengasihi Kristus sepenuhnya, dan , memikul salib dan mengikut Kristus.Matius 10:37 , Barang siapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku , ia tidak layak bagi-Ku; dan barang siapa mengasihi anaknya laki-laki atau anaknya perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.
Kasih dalam Matius 10:37 adalah motivasi bagi salib dalam Matius 10:38, Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagiKu. Membawa salib bukan berarti menempel sticker di motor, mobil atau rumah. Itu berarti mengakui Kristus dan mentaati Kristus meskipun menderita dan malu. Itu berarti mati bagi diri kita tiap-tiap hari. Jika Tuhann pergi ke salib untuk kita, dan setidaknya kita dapat mengerjakan salib itu untuk Kristus. Menerima penderitaan untuk kemuliaan Kristus.
Matius 10:39 menegaskan bahwa, saat ini kita memiliki dua alternatif, menyayangkan hidup kita, atau mempersembahkan hidup kita. Tidak ada titik tengah.
Jika kita melindungi keinginan kita (cinta diri), kita akan kehilangan nyawa kita. Kita tidak memiliki keselamatan. Jika kita mati untuk diri, dan hidup untuk menyenangkan Kristus, kita akan menjadi pemenang.
Dr. Binsar Antoni Hutabarat
https://www.binsarhutabarat.com/2020/11/mengasihi-tuhan-lebih-dari-segalanya.html
Sunday, July 4, 2021
Evolusi menyangkali kebenaran
Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. (Roma 1:18-19)
Manusia terus menerus mengalami kemunduran, manusia yang diciptakan Allah baik adanya itu, makin lama makin jahat. Hanya karena anugerah Allah manusia dapat diperbaharui oleh Allah dan berubah menjadi seperti Kristus.
Devolusi
Sejak penciptaan, Allah telah menyatakan diri-Nya kepada manusia. Taman Eden tempat Adam dan Hawa ditempatkan Allah adalah saksi kebaikan Allah yang menciptakan manusia. Tapi, secara bersamaan Taman Eden adalah saksi bahwa manusia yang diciptakan Allah baik adanya itu telah menindas kebenaran Allah, bukannya mentaatinya.
Di Taman Eden juga Manusia memproklamasikan dukungannya pada Iblis untuk melawan Allah. Itulah sebabnya manusia mengalami kemerosotan moral. Manusia yang dikeluarkan dari taman Eden itu kerap menebar kejahatan, dan bukannya mentaati Allah yang benar.
Peristiwa pembunuhan Habel oleh Kain adalah bukti bahwa kelaliman manusia menindas kebenaran. Belum lagi peristiwa Air bah yang menggambarkan murka Allah atas kelaliman manusia. Peristiwa Menara Babel saat Allah menceraiberaikan manusia, sampai pada peristiwa Sodom dan Gomora.
Pembuangan umat Allah merupakan bukti bahwa Allah yang benar tidak berkenan dengan kelaliman manusia, tapi manusia terus menerus bertambah jahat, dan mengalami banyak penderitaan
Alkitab jelas mengatakan bahwa manusia terus menerus mengalami devolusi di luar Allah, manusia makin lama makin jahat, dan hanya mungkin mengalami titik bali jika berbalik kepada Allah.
Evolusi menyangkali kebenaran
Manusia yang menolak Allah kemudian mendirikan kebenarannya sendiri. Salah satu pernyataan kebenaran manusia yang menindas kebenaran Allah adalah apa yang dinyatakan oleh evolusi. Menurut Evolusi manusia tidak makin lama makin jahat (devolusi), tetapi makin lama makin baik, makin sempurna (evolusi).
Menerima evolusi sesungguhnya sama saja mengatakan bahwa manusia di dalam dirinya dapat mencukupkan dirinya sendiri, bahkan dapat menjadi sangat hebat. Itulah sebabnya mereka yang menerima evolusi tidak merasa perlu akan Allah, dan terus menerus menindas kebenaran degan kelaliman.
Manusia selalu berusaha mencukupkan diri dengan mengusahakan teknologi mutakhir untuk memproduksi kebutuhan hidupnya, tapi hingga saat ini dunia tetap saja tak pernah luput dari ancaman kelaparan. Entah berapa banyak orang mati karena kelaparan.
Manusia yang merasa diri maha kuasa berusaha menggunakan teknologi untuk menjadikan dirinya berkuasa, dan kekuatan teknologi itu kerap digunakan untuk membunuh sesamanya, baik itu berupa teknologi senjata apai, sampai pada senjata-senjata kimia.
Bahkan sempat tersiar isu, bahwa Covid-19 pun akibat dari kegagalan manusia mengelola senjata kuman yang mematikan. Kita berharap itu tidak terjadi, apalagi dampak pandemi covid-19 yang melanda seluruh pelosok dunia. Covid menyasar negara-negara maju dan juga negara-negara berkembang.
Berbalik pada Kebenaran
Tak ada manusia yang tak dapat melihat Allah, setidaknya manusia dapat melihat Allah dari penciptaan manusia dan penciptaan Alam semesta. Allah yang besar, lebih besar dari alam semesta, karena itu Allah yang besar itu dapat menciptakan alam semesta.
Jika kita jujur, tak ada seorangpun yang memiliki kendali atas dirinya, maupun atas orang lain, demikian juga atas alam. Karena hanya pencipta alam semesta yang dapat mengendalikan alam semesta.
Peristiwa pandemi covid-19 juga merupakan bukti bahwa manusia tak dapat mengendalikan alam semesta. Pada masa pandemi covid-19 ini sudah sepatutnya kita kembali kepada kebenaran, Allah pencipta dunia ini, untuk bisa berdamai dengan sesama, dan mengelola alam dengan bijak, atau berdamai dengan alam semesta.
Pada mulanya adalah kebenaran, maka kita yang diciptakan oleh kebenaran itu wajib hidup benar, mentaati Allah yang benar, dan dengan jalan itulah kita bisa berdamai dengan sesama dan berdamai dengan Alam.
Tuhan dimuliakan.
Dr. Binsar Antoni Hutabarat
https://www.binsarhutabarat.com/2021/07/evolusi-menyangkali-kebenaran.html
Thursday, May 27, 2021
Covid 19 Bukan Tindakan Tuhan
Sains menemukan bahwa covid-19 merupakan akibat tindakan manusia yang menghancurkan bumi secara global dan menciptakan ketidakseimbangan alam. Virus yang asalnya dari kelelawar itu menyerang manusia secara luas.
Kita mungkin setuju bahwa bahwa pandemi bukan tidakan Tuhan, tetapi sesuatu yang diijinkan Tuhan, oleh karena tindakan manusia yang menghancurkan bumi secara global. Karena itu, Gereja perlu membuat terobosan-terobosan penting untuk tetap mewujudkan panggilan Gereja di tengah Covid-19.
Pada satu sisi, kita setuju bahwa banyak penderitaan dan kesusahan dialami umat manusia diseantero dunia ini tanpa kecuali. Tapi pada sisi lain gereja juga perlu introspeksi diri untuk mengevaluasi apa yang telah gereja kerjakan, termasuk gereja di Indonesia, dan kemudian berusaha memahami apa yang menjadi kehendak Tuhan, atau rencana Misi Allah untuk gereja pada masa sulit ini.
Topik yang menjadi pokok bahasan saya adalah Mewujudkan Panggilan gereja di tengah covid-19. Secara khusus saya mencoba mengevaluasi respon gereja di Indonesia dalam menghadapi badai covid-19. Pertama-tama saya akan membahas sekilas tentang kondisi gereja dan pendidikan tinggi teologi di Indonesia, untuk kemudian memberikan jawaban terhadap pertanyaan, bagaimanakah gereja dapat melaksanakan panggilannya di tengah covid-19?
Gereja dan Pelestarian Doktrin Denominasi
Saat awal merebaknya covid-19 di Indonesia, saya terkesima dengan perang doktrin denominasi yang disuguhkan media-media sosial. Gereja yang dibentengi tembok-tembok gereja yang tinggi itu harus keluar dunia nyamannya dan terlihat gagap bergaul dengan sesama saudaranya sendiri.
Ibadah online yang awalnya dapat diakses secara bebas pada saat ini makin dibatasi dengan teknologi mutakhir. Itu terjadi karena dunia maya telah menjadi arena pertempuran doktrin gereja yang gagap ketika harus saling berbagi informasi eksklusif denominasi. Banyak hal-hal yang tak masuk akal kita dengar dari pertempuran pada dunia maya itu, mulai dari kata-kata tak patut yang dilontarkan, sampai pada hardikan kasar yang sepertinya sengaja dilontarkan untuk membungkam sesama saudaranya.
Perpecahan gereja melahirkan banyak denominasi
Denominasi gereja di Indonesia menurut saya terlalu banyak, dan salah satu penyebanya adalah perpecahan gereja. Ironisnya gereja yang terpecah itu bukan karena doktrin utama, atau doktrin dasar, tetapi lebih kepada dukungan terhadap tokoh.
Alasan perpecahan karena pengaruh tokoh tertentuitu jelas tidak bisa menjadi alasan pendirian denominasi baru. Apalagi tata ibadah denominasi yang terpecah itu seringkali tak banyak perbedaan.
Penelitian saya menunjukkan bahwa sikap intoleransi antaragama, demikian juga antar denominasi banyak dipengaruhi oleh sikap intoleran tokoh agama. Berdasarkan temuan itu dapat dipahami bahwa ketika terjadi perjumpaan tokoh-tokoh gereja dalam bentuk ibadah online, sikap intoleransi tokoh agama terlihat jelas.
Pengamatan saya sementara gereja-gereja di Indonesia lebih berpusat kepada pembangunan kerajaan “denominasi gereja.” Menurt pengamatan saya, yang terjadi di Indonesia bukan pertumbuhan gereja, tetapi perpindahan anggota jemaat.
Saya kuatir “jangan-jangan” gereja telah menjadikan keunikan denominasi gereja sebagai “produk kebijakan” untuk menarik jemaat lain masuk dalam denominasi gereja tertentu. Ini tentu bukan salah satu usaha untuk mewujudkan panggilan gereja.
Kita kerap mendengar gereja tertentu menawarkan produk “doktrin paling benar,””Hidup paling kudus,”serta “paling disertai Tuhan” dengan “karunia-karunia spektakuler.”Kita tentu perlu bertanya, apakah dalam promosi produk-produk denominasi itu tidak terselip keinginan untuk sekadar memperbesar jumlah anggota jemaat gereja tertentu?
Menurut saya penekanan pada “produk kebijakan,”untuk istilah yang saya berikan, itulah yang kemudian membuat gereja berjuang keras untuk melestarikan dirinya untuk tetap punya keunikan ditengah derasnya arus informasi.
Strategi itu biasanya diungkus dengan propaganda sebagai usaha untuk melindungi diri dari serangan keragaman doktrin yang melanda sampai pada ruang-ruang privat kita. Dengan alasan melindungi jemaat dari penyesatan, gereja yang saling bertempur itu telah melupakan alam demokrasi dinegeri ini, apalagi semangat bhineka tunggal ika yang menjadi dasar bersama negeri ini.
Bahaya fundamentalisme, yaitu gereja merasa diri tahu segala sesuatu, merasa memiliki doktrin yang absolud, sehingga melupakan keterbatasannya, dan kemudian mengangkat doktrin denominasi itu menjadi setara dengan Alkitab, mungkin tanpa disadari, dan kemudian ironisnya lagi dengan bernapsu, “napsu ilahi”menurut mereka, denominasi itu berusaha menghabisi siapapun yang berbeda dengan mereka.
Realitas itu telah menjadi persoalan serius bagi gereja dan juga agama-agama di Indonesia. Ambil contoh Gerakan “pemurnian” bukan hanya dilakukan radikalisme agama-agama, tetapi juga telah menerobos masuk kedalam gereja, apalagi ketika sikap kritis anggota jemaat seakan terkubur oleh penampilan tokoh-tokoh idola mereka. Jemaat, bahkan teolog tak berani menguji pandangan-pandangan tokoh berkharisma itu.
Bagaimana dengan peran Teologi Akademis.
Pengamatan saya, pada umumnya pendidikan tinggi teologi yang didirikan oleh gereja, hanya menjadikan pendidikan tinggi teologi itu sebagai barisan pelestari doktrin gereja. Produk kebijakan gereja dipaksakan diterima pendidikan tinggi teologi. Menolak produk kebijkan itu berarti harus menyingkir, dan masih bersyukur tidak disebut bidat. Itulah sebabnya, Sulit ditemukan kebebasan akademik dalam pendidikan tinggi teologi yang didirikan gereja.
Sayangnya, perguruan tinggi teologi yang didirikan yayasan atas visi seorang tokoh Kristen juga mengikuti jejak yang sama. Adalah tabu untuk mengkaji doktrin tokoh pendiri perguruan tinggi teologi. Perguruan tinggi teologi seperti layaknya program “Vokasi”yang dihadirkan karena kebutuhan tenaga pengerja gereja.
Parahnya lagi, karya-karya akademis yang digelontorkan dosen-dosen teologi bisa dikatakan sangat langka. Mereka yang tamat doktor-doktor teologi menghabisi waktu mereka untuk mengajar, dan seakan lupa tugas panggilan mereka untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran teologi konteks Indonesia melalui penelitian untuk pengabdian masyarakat gereja.
Saya sempat terkesima ketika banyak perguruan tinggi teologi memaksakan tamatannya hanya menghasilkan karya akhir dalam bentuk penelitian kuantitatif, tragisnya lagi mereka tak pernah belajar statistik. Teologi dijadikan sama dengan sains. Sedang pada sisi lain terjadi pendangkalan kajian-kajian teologis.
Mewujudkan panggilan Gereja di tengah covid-19.
Menurut saya sudah tidak waktunya lagi antar denominasi gereja itu saling bertempur, apalagi hanya demi mempromosikan “produk kebijakan”gereja yang belum tentu sesuai dengan rencana misi Allah untuk denominasi itu, dan juga untuk denominasi gereja lain. Gereja di Indonesia perlu menyadari keterbatasannya, dan perlu saling belajar. Apalagi dalam alam demokrasi saat ini.
Apabila gereja-gereja dengan bantuan teolog-teolog yang bermarkas pada pendidikan tinggi teologi mampu bekerjasama, maka gereja akan tetap dapat memahami rencana misi Allah untuk gereja saat ini.
Kita bersyukur ada para teolog bersama para ahli kesehatan yang membuat pedoman bersama bagaimana gereja tetap menjalankan panggilannya di tengah covid-19. mulai dari penyelanggaraan ibadah-ibadah fisik terbatas, penggunaan media digital, gereja digital, penerapan protokol kesehatan sesuai dengan konteks ibadah gereja, dan juga pelayanan-pelayana gereja baik dalam hal pelaksanaan koinonia, diakonia, dan marturia.
Saya setuju dengan usaha “mainstreaming”pendidikan tinggi teologi. Karena pendidikan tinggi teologi di Indonesia, secara khusus Injili kehilangan percaya diri. Luaran perguruan tinggi teologi sekadar untuk memenuhi kebutuhan pengerja gereja, dan perlu taat total pada doktrin gereja. Lebih parah lagi mereka hanya menjadi barisan pengaman doktrin gereja.
Sebagai seorang peneliti, pada Dies Natalis STT Providensia ini saya mengusulkan agar pendidikan tinggi teologi mengembangkan pemikiran-pemikiran teologi mutakhir, dan juga penerapan doktrin teologis yang kontekstual, seperti saat covid-19 ini. Berarti, Pendidikan tinggi teologi bukan hanya mengembangkan studi multi disiplin dan interdisiplin, mencari integrasi antar disiplin yang berbeda untuk menjawab persoalan yang ada, seperti ketika akan membuat panduan pelayanan ditengah covid-19.
Pendidikan tinggi teologi juga perlu mengembangkan pendekatan “transdisiplin”untuk menghasilkan temuan-temuan baru. STT Providensi jangan menjadi benteng pelestari doktrin tokoh tertentu, tapi berusaha maju untuk menemukan penarapan-penerapan baru, jika mungkin pengembangan doktrin gereja, dalam mewujudkan panggilan gereja ditengah covid-19.
Soli Deo Gloria
Dr. Binsar Antoni Hutabarat
Dr. Binsar Antoni Hutabarat lahir di Jakarta, 19 November 1963. Menyelesaikan pendidikan SMA di Jakarta, kemudian melanjutkan di Akademi Pimpinan Perusahaan Departemen perindustrian RI tahun 1983-1986. Terpanggil menjadi Hamba Tuhan, menyelesaikan pendidikan Sarjana Teologi di I-3 Batu, Jawa Timur. Menyelesaikan Magister Christian Studies di Institut Reformed Jakarta. Mendapatkan gelar Magister Teologi (M.Th.) di STT Reformed Injili Internasional. Meraih gelar doktor pada Universitas Negeri Jakarta prodi Penelitian dan Evaluasi pendidikan (PEP). Saat ini menjabat sebagai Pendiri dan direktur Binsar Hutabarat Institute. Asesor Kepangkatan dosen pada Dirjen Bimas Kristen, Kementerian Agama RI. Ketua bidang penelitian Perkumpulan Dosen dan Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia(PDPTKI), Ketua umum regional 3 Jakarta-Banten PDPTKI. Ketua asosiasi jurnal perguruan tinggi keagamaan Kristen Indonesia. Ketua Litbang STT Lintas Budaya Jakarta. Ketua Tim Akeditasi STT Siarnauli, Sibolga, Sumatera Utara. Ketua Pendiri Institute Harsen Nias. Reviewer Buku Guru dan Buku PAK dan Budi Pekerti Siswa SMA Kelas X. Reviewer tujuh (7) Jurnal ilmiah.
https://www.binsarhutabarat.com/2021/02/covid-19-bukan-tindakan-tuhan.html
Saksi-Saksi Iman Sepanjang Sejarah
Saksi-Saksi iman Ibrani 11:1-6, Kejadian 4 : 26, Kejadian 5: 21-23 Pendahuluan. Kitab Ibrani pasal 11 secara runtut menjelaska...
-
https://www.bhi.binsarhutabarat.com/2023/02/beda-dosen-home-base-dan-dosen-tetap.html Salah satu persoalan yang menyebabkan beberapa Pendidi...
-
Integrasi Pendidikan Tinggi Teologi Dan Pendidikan Warga Gereja: Alternatif Meningkatkan Kompetensi Pelayan Kristen . Dr. Binsar Anton...
-
https://www.binsarinstitute.id/2025/07/filsafat-ilmu.html Kuliah filsafat ilmu bukan hanya diajarkan pada program studi s...



