Showing posts with label Agama dan Negara. Show all posts
Showing posts with label Agama dan Negara. Show all posts

Friday, May 15, 2026

Doa Keadilan Bagi Nadiem Makarim

 

Doa Lintas Agama Dan Kepercayaan Untuk Keadilan Bagi Nadiem Makarim

 

Sila pertama dari Pancasila mengatakan kepercayaan rakyat Indonesia terhadap sesuatu yang ilahi yang disepakati bersama rakyat Indonesia menyebutnya ketuhanan Yang Maha Esa. Agama-agama, kepercayaan ataua agama budaya masyarakat Indonesia sepakat bahwa yang berdaulat atas bumi, dan tanah air Indonesia adalah Tuhan Yang Maha Esa.

Pada keyakinan sila ketuhanan Yang Maha Esa itulah menurut saya kita perlu membawa pengadilan Nadiem Makarim dalam kedaulatan Tuhan Yang Maha Esa agar terwujud pengadilan yang bersih, transparan, adil dan bermartabat untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur serta bersatu di dalam ikrar bersama Kemerdekaan Indonesia.

Mari kita berdoa di atas dasar keyakinan ketuhanan Yang Maha Esa untuk pengadilan yang bersih, transparan, adil dan bermartabat dan terhindar dari makelar kasus yang sempat menodai pengadilan Indonesia.

 

Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang kami sebut dalam sila pertama Pancasila, ketuhanan Yang Maha Esa. Apapun sebutan agama dan kepercayaan terhadap sesuatu yang ilahi, pencipta langit dan bumi, kami percaya bahwa Dikau adalah Allah yang berkuasa atas seluruh ciptaan, termasuk seluruh rakyat Indonesia yang merindukan hidup menjadi masyarakat adil dan makmur.

Kiranya kemuliaan Tuhan, pencipta langit dan Bumi bukan hanya ada disurga kekal, tapi juga di bumi Indonesia. Kiranya keadilan, kemuliaan, segala sesuatu yang meninggikan martabat manusia Indonesia, dalam persatuan, untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmut terwujud di Indonesia. Biarlah jendela terbuka yang Tuhan siapkan untuk kemakmuran negri ini dapat tewujud.

Pada saat ini kami juga membawa kesedihan rakyat Indonesia yang mencintai pendidikan, keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia berdoa untuk pengadilan Nadiem Makarim, Tuhan dikau tahu polemik yang terjadi atas tuntutan jaksa, yang menurut banyak saksi tidak adil, dan menurut Nadiem Makarim merupakan narasi yang taka da bukti. Kami berdoa biarlah pengadilanyang transparan terbuka untuk semua rakyat Indonesia. Tuhan kiranya juga melihat kekecewaan Nadiem Makarin yang telah berjuang untuk kemajuan pendidikan, digitalisasi pendidikan yang sangat penting dapat dihargai sepatutnya.

Kami juga berdoa jika ada oknum yang menciptakan ketidakadilan, bukti-bukti palsu Tuhan menghajar oknum itu sehingga tidak mengotori pengadilan di negri ini. Jika Tuhan menghendaki memberikan hukuman secara langsung kepada mereka yang tidak adil, dan merekayasa pengadilan untuk kepentingan tertentu, atau ada usaha makelar kasus, hukumlah mereka dengan keadilan Tuhan, supaya oknum itu bertobat dan menjalankan pengadilan yang adil.

Kami juga berdoa untuk semua orang yang tahu kebenaran dan keadilan, tapi tidak berani mengutarakan keadilan dan kebenaran, beri mereka keberanian untuk mengungkap kebenaran, dan lindungi mereka ketika membongkar ketidak adilan. Seblaiknya mereka yang terus berupaya menggelapkan bukti, dan terlibat makelar kasus hukumlah mereka jika mereka tidak bertobat, supaya mereka tidak melakukan kejahatan kepada lebih banyak orang.

Tuhan kami juga berdoa untuk seluruh keluarga Naddiem yang terpukul dengan kejadian itu, kuatkan mereka, hiburkan mereka, yakinkan mereka, Tuhan pencipta langit dan bumi berkuasa. Hukum tabur tuai biarlah ditegakkan oleh Tuhan sendiri dengan membangkitkan orang-orang jujur, adil untuk berada dalam pengadilan, dan memberikan keadilan kepada siapapun tanpa perbedaan.

Kiranya negri ini dapat keluar dari hal-hal yang memalukan bangsa dan rakyat Indonesia. Dan negri ini keluar dari kegelapan, dan menghadirkan terang, bukan hanya untuk seluruh rakyat Indonesia, tapi juga bagi bangsa-bangsa di dunia.

 

Dr. Binsar Hutabarat 

www.binsarinstitute.id/2026/05/doa-keadilan-bagi-nadiem-makarim.html 

Sunday, March 8, 2026

Harmoni Beragama

https://youtube.com/shopcollection/SCUCPbNy6Yk99-gw4YZq2_FuyfTQvgv4icr3g?si=QDfKykRoz7RvknWk

Bisakah kita benar-benar bersatu dalam keberagaman agama? Mari kita cari tahu bersama!

Kita sering bertanya-tanya, apa yang terjadi ketika kita bersatu dalam keberagaman agama? Apakah kita bisa hidup harmonis, saling menghormati, dan bekerja sama untuk kebaikan bersama? Indonesia adalah contoh nyata negara dengan keberagaman agama yang luar biasa, dan kita akan menjelajahi bagaimana keberagaman ini membawa dampak positif.

Salah satu tantangan terbesar dalam mencapai unity dalam keberagaman agama adalah stereotip dan kesalahpahaman. Kita sering memiliki pandangan yang salah tentang agama lain, hanya karena kita tidak memahami atau tidak tahu tentang tradisi dan kepercayaan mereka. Contohnya, kita mungkin berpikir bahwa semua orang dari agama tertentu memiliki pandangan yang sama, padahal kenyataannya sangat beragam.

Mungkin kita juga pernah mendengar cerita tentang konflik antara kelompok agama yang berbeda. Ini memang terjadi, tapi tidak berarti bahwa kita tidak bisa bersatu. Kita harus belajar dari kesalahan masa lalu dan berusaha untuk memahami satu sama lain. Dengan memahami perbedaan, kita bisa membangun kepercayaan dan menghormati satu sama lain.

Tapi, ada banyak contoh positif tentang keberagaman agama di Indonesia. Kita bisa lihat bagaimana masyarakat dari berbagai agama bekerja sama dalam kegiatan sosial, seperti membantu korban bencana atau membangun sekolah. Mereka tidak mempedulikan perbedaan agama, tapi fokus pada kebaikan bersama.

Misalnya, ada sebuah proyek yang melibatkan masyarakat dari berbagai agama untuk membangun tempat ibadah bersama. Mereka bekerja sama, berbagi ide, dan saling menghormati, sehingga proyek ini berhasil dan menjadi contoh bagi masyarakat lainnya. Ini menunjukkan bahwa ketika kita bersatu, kita bisa mencapai hal-hal luar biasa.

Kita juga bisa lihat bagaimana dialog antar agama dapat membawa perubahan positif. Ketika kita duduk bersama, berbagi cerita, dan mendengarkan satu sama lain, kita bisa memahami perbedaan dan menemukan titik temu. Ini adalah langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih baik dan lebih harmonis.

Pesan yang ingin saya sampaikan adalah bahwa kesatuan dalam keberagaman agama bukan berarti kita harus menghilangkan perbedaan. Justru, kita harus merayakan perbedaan dan menemukan titik temu untuk kebaikan bersama. Ketika kita bersatu, kita bisa mencapai hal-hal luar biasa dan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Jadi, mari kita rangkum apa yang sudah kita pelajari. Ketika kita bersatu dalam keberagaman agama, kita bisa mencapai kekuatan dan keindahan yang luar biasa. Kita bisa hidup harmonis, saling menghormati, dan bekerja sama untuk kebaikan bersama.

Jika kamu memiliki pengalaman tentang keberagaman agama di daerahmu, saya ingin mendengarnya! Silakan berbagi cerita di kolom komentar. Jangan lupa subscribe channel ini untuk diskusi yang lebih menarik!

Friday, March 6, 2026

Harmoni Beragama

 Join me as I take on the challenge of exploring how we can foster harmony among different religions and why achieving peace is more important than ever!

Religious harmony is all about living together in peace and mutual respect, valuing the diversity of faiths and beliefs that make our communities richer and more vibrant. It's about understanding that our differences are what make us stronger, not weaker. When people from different religious backgrounds come together, share their perspectives, and learn from each other, amazing things can happen. It fosters a sense of community, breaks down barriers, and builds bridges between people.

One of the biggest challenges we face today is the misunderstandings and stereotypes that often exist between different religious groups. For instance, some people might view Islam as a religion that promotes violence, simply because of the actions of a few extremists. But that's not the reality for the vast majority of Muslims who are peaceful, kind, and contributing members of their communities. Similarly, Christianity is often misunderstood as being intolerant or judgmental, when in fact, many Christians are at the forefront of promoting love, acceptance, and compassion. These stereotypes can lead to fear, mistrust, and even conflict.

Real-world examples of these challenges are plentiful. Think of the Rohingya crisis in Myanmar, where religious persecution led to a massive refugee crisis. Or consider the terrorist attacks that have occurred in various parts of the world, often carried out in the name of religion. These events highlight the urgent need for greater understanding, tolerance, and peace among different religious groups.

The media also plays a significant role in shaping public perceptions of different religious groups, often inadvertently perpetuating negative stereotypes. By being more mindful and responsible in their reporting, the media can help foster a more informed and empathetic public discourse.

So, how can we promote interfaith dialogue and cooperation? One way is through community-based initiatives, such as interfaith youth programs, cultural exchange events, and volunteer projects that bring people from different backgrounds together. For example, some cities have established interfaith councils that meet regularly to discuss issues of common concern and promote mutual understanding. These efforts can help build trust, foster empathy, and create a sense of shared humanity.

Education also plays a critical role in promoting interfaith understanding. By incorporating teachings about different religions and their histories into school curricula, we can help young people develop a more nuanced and informed understanding of the world's diverse faith traditions. This can help dispel myths, challenge stereotypes, and inspire a new generation of leaders to promote peace and understanding.

In addition to these efforts, individuals can make a difference by simply engaging with people from different faith backgrounds. By listening to their stories, asking questions, and sharing our own experiences, we can build bridges of understanding and create a more harmonious and peaceful world.

There's a powerful story that illustrates the transformative impact of achieving religious harmony. It's the story of the interfaith movement in Rwanda, which helped to bring people together and promote healing after the country's devastating genocide. Through initiatives like the Rwanda Interfaith Council, people from different faith backgrounds came together to promote forgiveness, understanding, and reconciliation. This movement helped to create a more peaceful and cohesive society, and serves as a powerful example of what can be achieved when people work together towards a common goal.

The story of Rwanda's interfaith movement is a testament to the human spirit and the power of compassion, forgiveness, and love. It shows that even in the face of great adversity, people can come together and create positive change.

In conclusion, working towards peace and understanding in a religiously diverse society is crucial for creating a world where everyone can live together in harmony. By embracing our differences and promoting interfaith dialogue and cooperation, we can build a brighter future for all.

So, what do you think about religious harmony? Share your thoughts in the comments below! Don't forget to check out our other videos on peace and community building for more inspiring stories and practical tips on how to make a positive impact in the world.

Keberagaman Agama

 Bisakah kita benar-benar bersatu dalam keberagaman agama? Mari kita cari tahu bersama!

Kita sering bertanya-tanya, apa yang terjadi ketika kita bersatu dalam keberagaman agama? Apakah kita bisa hidup harmonis, saling menghormati, dan bekerja sama untuk kebaikan bersama? Indonesia adalah contoh nyata negara dengan keberagaman agama yang luar biasa, dan kita akan menjelajahi bagaimana keberagaman ini membawa dampak positif.

Salah satu tantangan terbesar dalam mencapai unity dalam keberagaman agama adalah stereotip dan kesalahpahaman. Kita sering memiliki pandangan yang salah tentang agama lain, hanya karena kita tidak memahami atau tidak tahu tentang tradisi dan kepercayaan mereka. Contohnya, kita mungkin berpikir bahwa semua orang dari agama tertentu memiliki pandangan yang sama, padahal kenyataannya sangat beragam.

Mungkin kita juga pernah mendengar cerita tentang konflik antara kelompok agama yang berbeda. Ini memang terjadi, tapi tidak berarti bahwa kita tidak bisa bersatu. Kita harus belajar dari kesalahan masa lalu dan berusaha untuk memahami satu sama lain. Dengan memahami perbedaan, kita bisa membangun kepercayaan dan menghormati satu sama lain.

Tapi, ada banyak contoh positif tentang keberagaman agama di Indonesia. Kita bisa lihat bagaimana masyarakat dari berbagai agama bekerja sama dalam kegiatan sosial, seperti membantu korban bencana atau membangun sekolah. Mereka tidak mempedulikan perbedaan agama, tapi fokus pada kebaikan bersama.

Misalnya, ada sebuah proyek yang melibatkan masyarakat dari berbagai agama untuk membangun tempat ibadah bersama. Mereka bekerja sama, berbagi ide, dan saling menghormati, sehingga proyek ini berhasil dan menjadi contoh bagi masyarakat lainnya. Ini menunjukkan bahwa ketika kita bersatu, kita bisa mencapai hal-hal luar biasa.

Kita juga bisa lihat bagaimana dialog antar agama dapat membawa perubahan positif. Ketika kita duduk bersama, berbagi cerita, dan mendengarkan satu sama lain, kita bisa memahami perbedaan dan menemukan titik temu. Ini adalah langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih baik dan lebih harmonis.

Pesan yang ingin saya sampaikan adalah bahwa kesatuan dalam keberagaman agama bukan berarti kita harus menghilangkan perbedaan. Justru, kita harus merayakan perbedaan dan menemukan titik temu untuk kebaikan bersama. Ketika kita bersatu, kita bisa mencapai hal-hal luar biasa dan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Jadi, mari kita rangkum apa yang sudah kita pelajari. Ketika kita bersatu dalam keberagaman agama, kita bisa mencapai kekuatan dan keindahan yang luar biasa. Kita bisa hidup harmonis, saling menghormati, dan bekerja sama untuk kebaikan bersama.

Jika kamu memiliki pengalaman tentang keberagaman agama di daerahmu, saya ingin mendengarnya! Silakan berbagi cerita di kolom komentar. Jangan lupa subscribe channel ini untuk diskusi yang lebih menarik!

Saturday, August 16, 2025

Anti Kristus Jaman Now

 


Anti Kristus Jaman Now: PGI, PGLII, PGPI, Aras Nasional Gereja Perlu Waspada!

 

Gereja pada awalnya adalah sebuah komunitas misioner, yaitu kumpulan orang Percaya kepada Kristus yang disatukan oleh Roh Kudus ke dalam Satu Tubuh dengan Kristus sebagai Kepala.

Dengan berjalannya waktu Gerejakemudian menjadi institusi yang kuat seperti gereja katolik yang menyebut diri gereja yang sejati, mewarisi tahta Petrus, meski tak mungkin dibuktikan, karena itu adalah keyakinan iman.

Gereja Katolik mengklaim diri sebagai gereja sejati membidatkan Gereja Protestan, sebaliknya Gereja Protestan memberikan Stigma Pada gereja katolik sebagai anti Kristus.

Gereja-gereja protestan pun berkembang menjadi gereja-gereja dengan institusi kuat, baik dalam bentuk sistem pemerintahan episkopal ataupun sinodal. Bahkan Gereja Protestan juga ada yang menjadi gereja negara, dan menyingkirkan gereja yang berbeda dengan Protestan.

Gereja-gereja yang tersingkir Karena berbeda doktrin dengan gereja Protestan sebagai gereja negara itu menuduh gereja Protestan sebagai anti Kristus. Pertarungan antara liberal dan injili dalam gereja Protestan tetap berlangsung hingga saat ini, gereja injili banyak yang menuduh Gereja Protestan yang liberal itu anti Kristus.

Salah satu perpecahan besar dalam tubuh Gereja Protestan adalah hadirnya gereja-gereja Pentakosta dan Kharismatik. Gereja-gereja Pentakosta dan Kharismatik yang awalnya kelompok kecil di beri stigma sebagai bidat, sebaliknya Gereja Pentakosta dan Kharismatik menuduh gereja Protestan anti kristus.

Perpecahan gereja juga terjadi di Indonesia, diperkirakan terdapat lebih dari 300 sinode gereja, dan gereja-gereja itu bernaung dalam 13 aras gereja. Awalnya yang kuat adalah PGI, dan gereja-gereja PGI ini meminggirkan gereja-gereja lain.

Karena organisasi gereja itu makin kuat, timbulah masalah baru, secara khusus suksesi kepemimpinan. Pemilihan ketua aras nasional tak ubahnya seperti pemilihan pejabat publik, apalagi fasilitas yang aduhai yang dapat diterima oleh mereka yang menjadi pemimpin aras nasional seperti PGI.

Aras lain juga mengikuti jejak PGI, baik itu PGLII, maupun PGPI. Kenikmatan memiliki komunitas yang kuat menggoda oknum tertentu untuk mewujudkan sebuah institusi yang kuat, dan hadirnya institusi gereja yang kuat kemudian menghadirkan banyak konflik, sebab nya jelas, banyak kepentingan yang tidak memuliakan kristus sebagai kepala gereja.

Gereja perlu terus mereformasi diri sebagai tubuh Kristus untuk hidup seperti Kristus, institusi gereja kerap menjadi penghalang reformasi gereja terjadi, dengan alasan menguatkan institusi gereja tidak jarang menggunakan cara-cara tak bermartabat.

Entah bagaimana ceritanya Gereja yang merupakan komunitas missioner itu kemudian di Indonesia dilarang hadir dengan dasar Moratorium pendirian gereja baru. Kehadiran komunitas missioner itu adalah kedaulatan Kristus, tapi telah dibelenggu menjadi kedaulatan aras nasional di Indonesia dengan memakai tangan pemerintah.

Saat ini terjadi sebuah gerakan besar diseluruh dunia yang ingin menghadirkan kembali gereja sebagai komunitas missioner dengan kristus sebagai kepala. PGI,PGLII dan gereja-gereja aras nasional jangan menjadi anti Kristus, yaitu dengan cara menghambat hadirnya gereja-gereja baru. Apalagi hak berserikat dan berkumpul adalah hak-hak asasi manusia, dan tidak ada satu institusi gereja pun yang dapat mengklaim ajaran gerejanya yang mutlak benar.

 

Dr. Binsar A. Hutabarat

 

https://www.binsarinstitute.id/2025/08/anti-kristus-jaman-now.html 

Thursday, August 14, 2025

Perdamaian dan Keadilan Internal Agama

 






 

 

Potret buram hegemoni agama yang meruntuhkan benteng kebebasan beragama dan berkeyakinan bukan hanya ada pada masa orde lama dan orde baru, tetapi juga terus terjadi hingga era reformasi ini. 

Hegemoni agama di negeri ini ternyata bukan hanya terjadi dalam hubungan antaragama, tetapi juga dalam internal agama itu sendiri (denominasi). Konflik yang terjadi dalam internal agama-agama ternyata juga tidak kurang beringasnya dibandingkan dengan apa yang terjadi pada konflik antaragama. Perdamaian dan Keadilan dalam hubungan interdenominasi agama masih menjadi perjuangan kekristenan di Indonesia hingga saat ini.

 

Usaha bagaimana interdenominasi agama bisa menampilkan wajah perdamaiannya semata-mata menjadi tugas yang teramat penting, khususnya tokoh-tokoh agama Kristen di negeri ini. Apalagi jika kita setuju, ambivalensi agama dalam penampakan agama pada ranah publik yang oleh Jose Casanova diartikan sebagai “bermuka dua”, “janus face” dimana agama dapat menampilkan wajah garang dan wajah perdamaian bukanlah terkait semata-mata pada diri agama-agama itu. Banyak peperangan yang dimotivasi agama pada hakikatnya bukanlah “perang agama” sebab agama bisa saja ditunggangi oleh kepentingan yang sebenarnya anti agama, secara khusus kepentingan politik.

 

Tulisan ini akan memaparkan bagaimana Perdamaian dan keadilan Interagama (interdenominasi kristen) dapat mewujud, dan sekaligus menjawab mengapa konflik interdenominasi yang tak kunjung reda di negeri ini dapat ditekan seminimal mungkin, untuk kemudian menghadirkan jalan tol perdamaian dan keadilan interdenominasi Kristen.

 

Ut Omnes Unum Sint

 

Umat Kristen senantiasa berharap menjadi satu. Namun, tidak semua penyatuan umat kristen dibangun pada dasar yang benar. Pertanyaan pentingnya adalah, apa yang menyatukan kita? Pada kenyataannya, umat Kristen menjadi satu bukan melulu karena karya  Roh Kudus, tetapi karena kekerasan, atau penyerangan bertubi-tubi yang diarahkan pada gereja. Apabila itu yang menjadi dasar mengapa umat Kristen menjadi satu, maka itu adalah kesatuan yang semu.

 

Pada masa gereja mula-mula, orang-orang Kristen enggan menyebar untuk kemudian memberitakan Injil. Berkumpulnya umat Kristen pada satu tempat (Yerusalem) telah mengakibatkan berkat Allah tak menyebar kepada bangsa-bangsa lain. Karena keegoissan umat kristen itulah Tuhan mengijinkan penganiayaan terjadi pada orang –orang Kristen, dengan maksud  agar orang-orang Krisetn menyebar dan memberitakan Injil. Ketika umat Kristen berkumpul, bukan berarti mereka menyatu, tidak produktifnya perkumpulan tersebut bisa menjadi pertanda, itu adalah persatuan yang semu. Berdiamnya umat Kristen di Yerusalem adalah persatuan yang semu, yakni berkumpul untuk menghindar dari ancaman dunia yang tak bersahabat.

 

Pada masa kini, persatuan yang semu diantara orang Kristen terlihat dalam perpindahan anggota gereja (organisasi gereja). Anggota jemaat yang pindah harus rela  menerima pembaptisan ulang. Itu mengindikasikan, cara-cara baptisan yang berbeda lebih utama dibandingkan pada atas nama siapa orang Kristen itu di baptis. Disini jelah terlihat meski kita menyatakan bahwa kita adalah satu, pada praktiknya kita tidak disatukan diatas nama kepala gereja, yaitu Yesus Kristus. Sebaliknya, denominasi gereja yang beragam itu  masih lebih mengutamakan institusi gereja (denominasi) dibandingkan Sang Kepala gereja. Menginstitusikan orang Kristen lebih utama dibandingkan menyatukan diri dibawah pinpinan kepala Gereja.

 

Bukan hanya baptisan yang menjadi saksi semunya kesatuan orang Kristen, tetapi juga perbedaan makna perjamuan Kudus. Perbedaan dalam memaknai perjamuan kudus sekaligus telah memecah persatuan diantara orang Kristen. Sejak permulaan Reformasi gereja-gereja tidak berhasil menciptakan kesatuan dalam pemahaman tentang perjamuan kudus. Perdebatan tentang Trans-substansia, yaitu pemahaman bahwa roti dan anggur berubah menjadi darah dan daging dalam perjamuan kudus, dan roti dan anggur tetap menjadi roti dan dan anggur, tetapi sambil makan dan minum orang dipersatukan  secara rohani dan jasmani dengan kristus, serta pemahan simbolis mengenai perjamuan kudus tak pernah selesai, dan mengancam keberhasilan Reformasi.

 

Rapuhnya kesatuan umat Kristen juga terlihat dalam menyikapi perbedaan doktrin. Khususnya terhadap mereka yang digolongkan pada bidat. Michael Servet (1553) seorang dokter yang menolak ajaran tentang tritunggal harus mengakhiri hidupnya dengan cara dibakar hidup-hidup. John Calvin telah berusaha mempertobatkan Servetus agar terbebas dari hukuman, dan juga meminta kepada pemerintah untuk tidak menghukum Servetus dengan cara keji, yakni dibakar hidup-hidup, namun usahanya gagal. Tindakan pemerintah Jenewa yang membakar Servetus karena menghujat nama Allah, yang adalah hukuman tradisional untuk penganut ajaran sesat pada waktu itu, menjadi lembaran hitam sejarah gereja.

 

Alkitab sesungguhnya sangat menghargai kebebasan beragama. Bagi Luther kebebasan beragama juga berarti kebebasan setiap orang Kristen untuk menafsirkan Alkitab. Doktrin predestinasi dalam Alkitab menjadi cikal bakal ajaran pengakuan kebebasan beragama. Berdasarkan doktrin predestinasi dapat dipahami bahwa perpindahan anggota gereja ke gereja lain, atau perpindahan antar agama menjadi hak setiap individu. Kebebasan hati nurani sesungguhnya ditegakkan di atas doktrin predestinasi. Sayangnya, gereja bukan hanya tidak belajar dari masa lalu, tetapi mengabaikan doktrin predestinasi yang amat penting itu.

 

Kehadiran Rancangan Perda Manokwari Kota Injil yang menghebohkan, pada rancangan awal salah satunya memuat larangan kehadiran kapal penumpang yang menurunkan penumpang dalam jumlah besar pada hari minggu di kota Manokwari jelas merupakan bentuk intoleransi gereja terhadap kebebasan umat Kristen itu sendiri, dan juga mereka yang beragama lain. Buah dari pengabaian lembaran hitam sejarah perjumpaan gereja dan bidat. Raperda Manokwari Kota Injil menyiratkan semangat yang menggebu-gebu dalam gereja untuk menggunakan tangan pemerintah dalam memaksakan kehendaknya, dan ini menjadi bumerang bagi gereja itu sendiri, khususnya pada tempat-tempat dimana gereja menjadi kelompok minoritas. Intoleransi gereja akan melahirkan intoleransi terhadap gereja (Balas dendam agama)

 

Gereja yang mengakui keragaman dalam dirinya harusnya menerima pluralisme sebagai suatu yang niscaya dalam denominasi-denominasi gereja yang beragam dan berbeda.. Penerimaan Pluralisme bukanlah mengarahkan pada usaha untuk menyeragamkan denominasi-denominasi yang berbeda dan beragam. Sebaliknya penerimaan terhadap pluralisme agama adalah sesuatu yang didasarkan oleh toleransi yang menghargai keragaman denominasi gereja, dan menjadi dasar bagi pengakuan kebebasan beragama.

 

Denominasi-denominasi gereja yang berbeda tidak boleh berusaha  mempertahankan eksistensinya dengan membiarkan yang lainnya mati (live and let die), dan agama-agama  bukan hanya harus hidup bersama dalam hubungan yang bersifat, “hidup bersama dan tidak saling mengganggu”, namun agama-agama harus “hidup bersama dan saling membutuhkan satu sama lain,” yaitu  agama-agama menyadari interdepedensi-nya satu sama lain. Pada kondisi itulah proteksi kemerdekaan beribadah dapat dijaga secara bersama-sama.

 

Lahirnya Peraturan Bersama Menteri (PBM) perbaikan dari Surat Keputusan Bersama (SKB) patut disesali oleh gereja-gereja. Persetujuan gereja terhadap PBM tersebut jelas menunjukkan penegasian gereja terhadap sesama gereja, khususnya terhadap organisasi gereja yang memiliki jemaat kurang dari 90 orang dewasa, serta geraja-gereja yang beribadah di ruko (rumah toko) yang bukan diperuntukkan untuk gereja, tetapi menjadi areal bisnis. Apalagi pada kenyataannya tidak jarang, PBM tersebut dijadikan gereja untuk menolak kehadiran gereja lain yang dianggap sebagai kompetitor.

 

 

Evangelism and Social Action

 

Penginjilan dan aksi sosial merupakan isu penting yang terus menjadi polemik dalam gereja, bahkan kerap mengoyak kerjasama antardenominasi gereja. Social action harus dimaknai sebagai buah dari penerimaan atas Injil yang benar. Hal ini tidak boleh dipersamakan dengan Injil. Social action menjadi pre-evangelistic preparation, menjadi sesuatu manifestation of true Christian agar orang percaya kepada injil. Namun, kebaikan motif Kristen dalam penginjilan tidak boleh menjadi bagian dari penginjilan.

 

 Orang Kristen wajib melayani orang miskin, dan berjuang bersama dengan warga bangsa lainnya untuk mengentaskan kemiskinan. Namun, secara bersamaan orang kristen juga harus berjuang untuk menyembuhkan kemisikinan rohani (memberitakan injil). Aksi sosial dan penginjilan tidak boleh dicampur. Pelayanan Kristen harus bersifat menyeluruh. Aksi sosial dan pemberitaan Injil. Jadi, “mission” itu adalah evangelization ditambah dengan the result, the fruit of our true life. Dengan sendirinya mewujudkan keindahan daripada firman dan Injil Tuhan.

 

 
Perdamaian dan Keadilan Interdenominasi

 

Fakta keragaman dan keberbedaan denominasi gereja tidak harus terus diratapi. Keragaman-dan keberbedaan denominasi harus diterima sebagai realitas. Pluralisme dalam gereja harus diterima dan dirawat dengan baik, agar semata-mata mendatangkan berkat bagi gereja-gereja.

 

Gereja-gereja yang berbeda dan beragam tidak boleh mengurung diri dalam benteng-benteng denominasi, dan hanya sesaat berkumpul bersama ketika menghadapi persoalan atau ancaman bersama. Eksklusivisme denominasi mengakibatkan umat Kristen kurang memahami keragaman gereja, dan ini bisa menimbulkan kesalahpahaman atas agama-agama yang berbeda, yang akhirnya berujung pada konflik interdenominasi. Bahaya eksklusivisme ini bisa muncul pada semua orang, baik yang Kristen maupun yang bukan Kristen.

 

 

Gairah yang makin tinggi dari anggota jemaatt dalam menekuni ajaran Kristen pada denominasi tertentu harus disyukuri. Namun, gairah tersebut mestinya juga didukung oleh semangat untuk mengenal realitas keragaman gereja. Sejarah membuktikan, keragaman gereja tak pernah bisa diseragamkan, gereja-gereja di bumi ini makin hari makin beragam, meski tetap memiki kesamaan-kesamaan. Kesamaan yang ada dalam interdenominasi itu harus terus digali untuk dapat menjadi perekat bagi kehidupan bersama gereja-gereja.

 

Pada kondisi dimana mendapatkan izin mendirikan rumah ibadah menjadi kian sulit, gereja-gereja yang beragam dan berbeda harus berani mengijinkan denominasi gereja lain menggunakan tempat ibadah mereka. Apabila pada ruko-rujko yang kini banyak bertebaran di kota-kota besar, dan setiap ruko tersebut bisa digunakan oleh dua-atau lebih denominasi gereja, dan itu berlangsung dengan damai, maka pada gereja-gereja yang telah memiliki IMB mestinya juga terbuka untuk fasilitas gerejanya digunakan oleh denominasi gereja lain yang membutuhkan.

 

Kesedian untuk hidup damai interdenominasi, akan mendorong lahirnya lembaga-lembaga interdenominasi gereja, organisasi interdenominasi ini penting untuk mengkomunikasikan ajaran-ajaran gereja yang berbeda dan beragam itu. Melalui komunikasi nilai-nilai interdenominasi itu pastilah hadir nilai-nilai inklusif (goldenrule) yang bisa menjadi titik pijak bersama, perekat kebersamaan yang lebih mendalam untuk terciptanya hidup damai interdenominasi gereja

 

Apabila integrasi interdenominasi berjalan dengan baik, maka hubungan interdenominasi gereja tidak hanya akan tetap berada pada level tidak saling menggangu, tetapi bergerak maju menjadi hubungan yang bersifat creative proexistence. Pada level ini dalam kelompok yang berbeda itu telah tumbuh kesadaran interdepedensi, karena itu hubungan interdenominasi bukan hanya tidak saling menggangu, tapi mulai saling memperhatikan.

 

Adanya organisasi-organisasi interdenominasi sangat penting  untuk meredam konflik berkepanjangan interdenominasi. Rumor negatif khusunya perpindahan anggota jemaat tidak akan berdampak luas jika lembaga interdenominasi itu bekerja sama dengan baik. Apabila integrasi antar denominasi terawat dengan baik, provokasi dalam bentuk apapun akan mungkin untuk diantisipasi dengan tepat.

 

Tingginya kepercayaan interdenominasi adalah syarat mutlak bagi hadirnya pengelolaan koflik interdenominasi yang kerap muncul di negeri ini. Penyelesain koflik membutuhkan komunikasi, dan komunikasi dapat terjadi karena adanya rasa saling percaya. Mustahil menihilkan konflik, karena konflik itu sendiri sesungguhnya merupakan sesuatu yang alami, konflik adalah sesuatu yang inheren. Selama kita tak mampu membebaskan diri dari stereotipe negatif tentang kelompok lain, konflik akan terus ada.

 

Perdamaian antar denominasi gereja yang dibangun diatas keadilan bersama ini juga akan menjadi kekuatan yang amat besar untuk menekan negara yang tidak jarang tergoda untuk mengintervensi ruang privat agama. Gereja-gereja bukan hanya perlu menolak undang-undang yang merugikan gereja-gereja semisal PBM, tetapi gereja-gereja juga harus menolak Undang-undang kerukunan umat beragama yang terindikasi akan membelenggu kebebasan beragama.

 

Terciptanya kebebasan beragama memang menuntut saham pemerintah. Regulasi pemerintah terhadap jaminan kebebasan beragama (freedom religious) dan perlakuan anti diskriminasi agama tentu saja dibutuhkan agar agama-agama mendapatkan jaminan kebebasan beragama dan jaminan atas perlakuan yang sama. Regulasi pemerintah yang memberikan jaminan kebebasan beraganma dapat diwujudkan dalam regulasi yang  menjaminan kebebasan beragama dan anti diskriminasi agama. Ini merupakan syarat mutlak terciptanya kondisi yang kondusip bagi perjumpaan interdenominasi agama dan antaragama yang damai.

 

Namun, pemerintah tidak perlu mengatur kehidupan beragama. Apabila pemerintah  mengeluarkan regulasi yang jelas-jelas akan merampas kebebasan individu, atau organisasi gereja tertentu ataupun agama tertentu maka gereja-gereja harus berani bersatu menentangnya untuk kebaikan bersama.

 

Kita boleh saja tidak setuju pada kepercayaan orang lain, tetapi sebagaimana Luther pernah mengatakan, “manusia dalam hati nuraninya adalah raja” maka sudah seharusnyalah dalam hati nuraninya manusia bebas memilih obyek imannya, apapun obyek iman yang diyakininya, dan pilihan itu harus dihormati. Pada dasar inilah penghargaan terhadap interdenominasi mesti dibangun, dan inilah yang menjadi pembatas kebebasan seseorang ketika mengekspresikan kebebasannya sehingga terwujudlah kehidupan interdenominasi yang damai dan adil.

Dr. Binsar Antoni Hutabarat

https://www.binsarinstitute.id/2020/12/perdamaian-dan-keadilan-internal-agama.html

Doa Keadilan Bagi Nadiem Makarim

  Doa Lintas Agama Dan Kepercayaan Untuk Keadilan Bagi Nadiem Makarim   Sila pertama dari Pancasila mengatakan kepercayaan rakyat Indo...