Saturday, November 12, 2022

Menguatkan Moderasi Beragama di indonesia

 



Menguatkan moderasi beragama menekan radikalisme agama


Menguatkan Moderasi Beragama di Indonesia

Pada tahun 2019 istilah moderasi beragama mulai mencuat seiring dengan hadirnya buku-buku yang membahas terkait perlunya menghadirkan moderasi beragama di Indonesia. Pemerintah tentu tidak salah mengumandangka pentingnya moderasi beragama di Indonesia, tapi elemen penting dalam menguatkan moderasi beragama adalah rakyat itu sendiri.

Radikalisme agama meledakkan terorisme

Secara umum Radikalisme agama merupakan  gerak keagamaan berbasis kepada tafsiran literal hukum agama demi pemahaman dan praksis keagamaan yang lurus dan murni, dan karena itu menolak Pancasila dan toleransi.

 Radikalisme agama dalam pengertian politik adalah sebuah gerakan yang menginginkan perubahan dengan cepat atau radikal dengan meruntuhkan pemerintahan yang ada, dan kemudian menghadirkan negara yang didasarkan pada agama tertentu. Jadi radikalisme agama sangat berbahaya karena ingin menguasai negara dengan cara-cara tidak demokrasi untuk menguasai pemerintahan.

Menguatnya radikalisme agama itu kemudian meledakkan aksi-aksi terorisme yang membuat masyarakat di Indonesia, bahkan pada beberapa penjuru dunia menjadi tidak tenang. Tindakan bom bunuh diri yang menghancurkan tubuh terorisme, juga orang-orang yang menjadi sasaran bom bunuh diri membuat masyarakat Indonesia tidak tenanng.

Peristiwa Bom Natal, Bom Bali, Bom Marirot membuat masyarakat tidak bisa tenang menikmati liburan pada tempat-tempat rekreasi, bahkan di mall-mall yang kerap jadi sasaran bunuh diri. Apalagi kantor polisi juga telah menjadi sasaaran bom bunuh diri itu.

Menguatkan moderasi beragama

Agama sepatutnya membuat pemeluknya ramah terhadap sesamanya, itulah sebabnya kerukunan merupakan semangat agama. Umat beragama yang taan tentu ingin menaburkan benih kasih kepada sesamanya. Pengenalan akan sangpencipta yang penuh kasih, adil, memberikan hujan dan panas kepada semua orang tanpa kecuali mengajarkan bahwa mengasihi sesama adalah sebuah kerahurasan.

Moderasi beragama yaitu sebuah sikap moderat, toleran, dapat menerima perbedaan, bahkan menjadikan perbedaan kesempatan untuk saling memperkaya pemahaman agama masing-masing sejatinya perlu muncul dari masyarakat. Menguatkan moderasi beragama merupakan tugas setiap umat beragama, bukan hanya pemerintah, meski pemerintah punya kepentingan, yaitu untuk menguatkan persatuan dan kesatuan umat beragama di indonesia. Karena dengan persatuan dan kesatuan umat beragama itu, Indonesia bisa terus maju, hadir sebagai negara maju yang diperhitungkan dunia.

Dengan demikian jelaslah, usaha pemerintah untuk menguatkan moderasi beragama tidak ada yang salah. Moderasi beragama menekan radikalisma agama yang meledakkan terorisme. Tapi, perang masyarakat menjadi kunci keberhasilan dalam menguatkan moderasi beragama yang dikumandangkan pemerintah itu.


Dr. Binsar Antoni Hutabarat

Direktur Binsar Hutabarat Institute

Wednesday, October 26, 2022

Mabuk Scopus, Jurnal Bereputasi

 


https://www.facebook.com/Binsarhutabaratcenter



Mabuk Scopus, Jurnal Bereputasi


Jabatan, takhta atau kedudukan masih saja menjadi incaran manusia-manusia ambisius nir etis yang berpusat pada ego tanpa peduli dampak menghancurkan yang kerap menyertai tindakan meraup kekayaan sebesar-besarnya melalui jabatan itu. 

Napsu untuk mendapatkan jabatan fungsional Guru Besar dengan menghalalkan segala macam cara menjadi fenomena biasa bagi para cendikiawan, penjahat berkerah putih yang “Mabuk Scopus”jurnal bereputasi. 

Meski harus menggelontorkan  puluhan juta rupiah, mereka yang mabuk scopus itu rela tak peduli, asalkan napsu memilik artikel yang dimuat pada jurnal terindeks scopus sebagai syarat menjadi Guru Besar (Profesor) terpenuhi.

Persyaratan jabatan Guru Besar yang mewajibkan seorang dosen memiliki artikel yang dimuat pada jurnal terindeks scopus terindikasi berpengaruh sinifikan terhadap menjamurnya lembaga-lembaga bimbingan menulis artikel ilmiah, bahkan terindikasi ada joki-joki scopus yang menjamin dosen yang tak mampu meneliti dan menulis karya ilmiah bisa memiliki artikel yang dimuat di jurnal terindeks scopus. 

Mereka yang mabuk scopus bukannya berjuang menghasilkan karya penelitian yang berguna bagi masyarakat dengan temuan-temuan baru mereka, tapi dalam mabuknya mereka kerap berceloteh artikel scopus mereka terus bertambah, bahkan dalam mabuknya mereka kerap lupa bahwa utamanya bukanlah publikasi, tapi karya bermutu!

Bisnis jurnal terindeks scopus, juga diikuti bisnis jurnal bereputasi terindeks Sinta, apalagi jurnal-jurnal terindeks Sinta 1 dan Sinta 2, syarat untuk memiliki jabatan Lektor Kepala dan Guru Besar. Apa jadinya jika publikasi pada  jurnal bereputasi itu tidak menghadirkan artikel hasil penelitian bermutu?

Check Plagiarism yang menjadi alat untuk membantu mendeteksi apakah sebuah artikel itu plagiasi atau tidak, sebaliknya dijadikan alat untuk “mengelabui”bahwa artikel plagiasi itu tidak terdeteksi alat check Plagiarism. Apalagi dengan hadirnya aplikasi-aplikasi yang memudahkan membuat paraphrase sehingga artikel plagiat itu tidak terdeteksi sebagai artikel plagiat. Untuk mereka yang paham tentu saja tetap mampu mendeteksi, apakah sebuah artikel itu plagiasi atau tidak.

Kementerian Pendidikan Indonesia perlu tanggap terhadap banyaknya jurnal-jurnal predator, tetapi juga terhadap gencarnya publikasi artikel tak bermutu pada jurna-jurnal bereputasi seperti jurnal terindeks scopus dan jurnal terindeks Sinta.

Para dosen pendidikan tinggi keagamaan yang tergabung dalam Kementerian Agama Republik indonesia perlu mewaspadai fenomena “mabuk scopus,” apalagi, Jabatan Guru Besar rumpun ilmu agama kini berada di Kementerian Agama.

Kita bersyukur atas meningkatnya publikasi cendekiawan Indonesia pada jurnal-jurnal bereputasi, seperti jurnal terindeks scopus dan terindeks Sinta. Tapi, jika publikasi pada jurnal-jurnal bereputasi itu tidak menghadirkan karya-karya bermutu, dan hanya menghadirkan multiplikasi mereka yang mabuk scopus, apa gunanya untuk kemajuan pendidikan bangsa indonesia?

Pemerintah dan para cendikiawan di negeri ini mesti mewaspadai jatuhnya jabatan-jabatan penting pada mereka yang tidak bermutu. Pemerintah Indonesia perlu waspada pada hadirnya para makelar jabatan, tapi juga joki-joki jurnal terindeks scopus, atau jurnal bereputasi.

Kiranya negeri ini bisa bebas dari penjajahan jurnal terindeks scopus dan juga jurnal bereputasi. Publikasi hanyalah alat, bukan tujuan. 

Dr. Binsar A. Hutabarat

Ketua Umum Asosiasi Program Studi Teologi dan PAK (ASPROTEPAK)




Pembelajaran Bauran

  Pembelajaran Bauran (Blended Learning) Blended Learning atau Pembelajaran Bauran adalah metode pembelajaran yang memadukan secara harmoni...