https://www.binsarinstitute.id/2026/08/kuliah-umum-apsik_0395839676.html
KULIAH UMUM APSIK
"Kompleksitas Tantangan Pembangunan Pendidikan di Papua"
Sesi 2
Hari : Sabtu, 15 Agustus 2026
Jam : 09:00-11:00
Pembicara :
- Bpk. Nahes Jon Fallo, M.Pd.
https://www.binsarinstitute.id/2026/08/kuliah-umum-apsik_0395839676.html
KULIAH UMUM APSIK
"Kompleksitas Tantangan Pembangunan Pendidikan di Papua"
Sesi 2
Hari : Sabtu, 15 Agustus 2026
Jam : 09:00-11:00
Pembicara :
- Bpk. Nahes Jon Fallo, M.Pd.
https://www.binsarinstitute.id/2026/08/mari-berteologi-kekinian.html
KULIAH UMUM APSIK
" MARI BERTEOLOGI KEKINIAN"
Sesi 2 :
* *Teologi dalam disiplin ilmu²
* Teologi dan gereja
Hari : Jumat, 14 Agustus 2026
Jam : 09:00-11:00
Pembicara :
- Dr. Togardo Siburian
MI: 82263855427
Pass: stulos
Link Zoom:
https://us02web.zoom.us/j/82263855427?pwd=UW5vbVRHb3BQbHNKcUUzZC81L0Yydz09
PELATIHAN & UJI KOMPETENSI BNSP: TATA KELOLA JURNAL ILMIAH 🎓
📍 Yogyakarta
Dapatkan pengakuan profesional dan sertifikasi resmi dari BNSP & PKP School!
🔹 Skema:
- Penerapan IT Artikel Ilmiah
- Pengelolaan Jurnal Elektronik
🔹 Benefit:
- Sertifikat RJI Academy (40 JP)
- PKP School (20 JP)
- Sertifikat Kompetensi BNSP (jika dinyatakan kompeten)
🗓️ Pelaksanaan:
- Online: 28 Agt – 3 Sept 2026
- Offline (Yogyakarta): 4 – 5 Sept 2026
💳 Biaya:
- Pelatihan: Rp 500.000 (GRATIS utk Anggota RJI & Member DOI)
- Sertifikasi: Rp 1.500.000
🔥 Kuota terbatas! Raih pengakuan profesional Anda sekarang.
🔗 Link Daftar: https://s.id/serkomyk_sept2026
📞 Info/WA Admin: 0813-3959-5151
https://www.binsarinstitute.id/2026/08/tata-kelola-jurnal.html
https://www.binsarinstitute.id/2026/08/lift-dan-pisa.html
LIFT dan PISA: Salah Diagnosis, Salah Solusi
Membangun Akar Transformasi Pendidikan Indonesia
Narasi LIFT (Literacy for the Future) tentang rendahnya kemampuan membaca, matematika, dan sains murid Indonesia—sebagaimana tercermin dalam hasil PISA—kini mulai menggema.
Seperti saban kali saya sampaikan, sekitar 75–80% murid Indonesia masih berada pada tingkat kemampuan minimum dalam membaca, matematika, dan sains. Sementara itu, kurang dari 1% yang mencapai tingkat kompetensi global. Ini persoalan sudah dua dekade lebih yang saya namakan krisis kronis struktural.
Namun, jika solusi yang terus ditawarkan masih bertumpu pada perubahan kurikulum, berarti kita belum memahami akar persoalannya.
LIFT sejak awal berangkat dari satu pemahaman sederhana: akar utama rendahnya hasil PISA Indonesia adalah lemahnya kemampuan membaca.
Kemampuan membaca tidak hanya dibentuk di sekolah. Ia juga dibentuk di rumah, oleh budaya membaca, dan oleh ketersediaan bahan bacaan. Di sinilah Indonesia mengalami defisit besar. Anak tidak mungkin gemar membaca jika tidak ada yang dibaca.
Buku bacaan nonteks masih sangat terbatas. Perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum jauh dari memadai, bahkan di banyak tempat sangat memprihatinkan. Akibatnya, praktis anak-anak Indonesia tumbuh tanpa akses memadai terhadap buku dan tanpa ekosistem yang membiasakan mereka membaca.
Pandangan ini bukan hal baru. Dalam buku Indonesian Dream: A Pursuit of a Winning Nation (2009), saya telah mengangkat persoalan yang sama. Data PISA 2006 menunjukkan sekitar 87% murid Indonesia sudah bisa membaca, tetapi belum memahami apa yang mereka baca. Pada saat yang sama, Susenas BPS 2006 menunjukkan hanya sekitar 13% penduduk berusia 10 tahun ke atas yang membaca buku nonpelajaran dalam satu minggu terakhir. Keduanya menunjukkan akar persoalan yang sama: lemahnya budaya membaca.
Jadi, persoalan utamanya bukan semata-mata kurikulum. Persoalannya adalah akses terhadap buku bacaan dan ekosistem pembelajaran bermutu.
Karena itu, LIFT mengembangkan NEXUS (Nurturing Excellence in Literacy, Science, and Character). Bukan sekadar program membaca, tetapi sebuah inovasi yang membangun ekosistem pembelajaran dengan melibatkan sekolah, keluarga, komunitas, dunia usaha, dan pemerintah daerah.
Sasarannya jelas: memperluas akses terhadap buku bacaan bermutu sekaligus membangun ekosistem budaya membaca secara terarah, sistematis, dan berkelanjutan.
Transformasi pendidikan tidak akan lahir dari sekolah saja. Tidak pula dari perubahan kurikulum atau regulasi semata. Transformasi hanya terjadi ketika seluruh pemangku kepentingan bergerak bersama. Itulah kekuatan ekosistem.
Itulah filosofi LIFT dan fondasi NEXUS. Sebuah koreksi mendasar terhadap cara kita membangun pendidikan Indonesia. Dan itulah salah satu jalan utama menuju transformasi pendidikan Indonesia.
(Elwin Tobing, Profesor ekonomi, Presiden INADATA, Irvine, AS; Menulis buku “NOW or NEVER” yang memberikan blueprint transformasi ekosistem inovasi nasional sebagai syarat mutlak menuju Indonesia Emas 2050. Elwin juga mengembangkan Gerakan LIFT- Literacy for the Future dan Inovasi NEXUS sebagai suatu ekosistem mentransformasi literasi, karakter, dan minat sains anak murid Indonesia).
https://nasional.kompas.com/read/2026/08/06/20091311/skor-pisa-pendidikan-indonesia-rendah-prabowo-kita-terima-sebagai-koreksi
RENUNGAN, SENIN 10.08.2026.
DIPERSATUKAN OLEH DARAH KRISTUS.
(Efesus 2: 13-(11-22, sesuai SBU).
1.Ada dua golongan orang yang ada dalam jemaat Efesus. Mereka terpisah karena persoalan kesukuan, agama, budaya dan sosial. Golongan Yahudi disebut sebagai golongan bersunat, dan golongan non Yahudi sebagai golongan tidak bersunat. Orang-orang non Yahudi tidak termasuk kewargaan Israel, karena itu dipahami sebagai orang-orang yang hidup tanpa Kristus (ay.11-12).
2.Di dalam Kristus mereka yang tadinya berjauhan, dipersatukan oleh darah Yesus. Jurang pemisah yang memisahkan mereka, dijembatani. Tidak ada lagi Yahudi dan non Yahudi. Kristus adalah damai sejahtera kita, yang mempersatukan kedua pihak dengan merobohkan tembok pemisah yaitu perseteruan, dengan darah-Nya (karya salib-Nya)(ay.14-16).
3.Kematian-Nya di kayu salib adalah satu-satunya cara untuk mendamaikan seluruh umat manusia dengan Allah. Mereka yang percaya kepada-Nya menjadi kawan sewarga, anggota-anggota keluarga Allah. Karena itu mereka memiliki ikatan bersama yang lebih dalam dan lebih kuat dari pada perbedaan suku, warna kulit, status, jenis kelamin dan perbedaan latar belakang apapun (ay. 17-19).
4.Kebersamaan, kesatuan menjadi hal yang sulit didapatkan dan diwujudkan pada saat ini. Manusia lebih memperhatikan kepentingannya dan kelompoknya. Adanya diskriminasi di segala lini. Belum lagi arogansi dan kejahatan. Mari belajar dari Yesus yang rela mencurahkan darah-Nya demi mewujudkan kesatuan dan menjembatani jurang pemisah. Mari meneladani Yesus, karena di dalam Dia ada kasih, kerendahan hati, ketaatan dan pengorbanan yang mempersatukan.
SELAMAT BERAKTIVITAS DI MINGGU YANG BARU (siz).
Sealthiel Izaak ( Diambil dari Grup Alumni I-3
https://www.binsarinstitute.id/2026/08/renungan-agama-kristen.html
https://www.binsarinstitute.id/2026/07/kuliahumum-apsik.html
Blended Learning atau Pembelajaran Bauran adalah metode pembelajaran yang memadukan secara harmonis, terstruktur, dan sistematis antara keunggulan pembelajaran tatap muka (face to face) dan daring (online).
Metode belajar ini menjadi populer seiring dengan pesatnya perkembangan TIK, yaitu perpaduan jaringan internet dan kemampuan komputasi (IoT), sehingga memungkinkan pembelajaran lebih efisien dan efektif dalam pengembangan capaian pembelajaran pada diri mahasiswa.
Blended learning menjadi salah satu strategi pembelajaran yang efektif untuk memfasilitasi mahasiswa pada saat mengikuti proses pembelajaran di luar program studinya. Mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengalaman belajar saat didampingi dosen di kelas ataupun di luar kelas, namun juga mendapatkan pengalaman belajar yang lebih luas secara mandiri.
Saat belajar di kelas, mahasiswa mendapatkan materi pembelajaran dan pengalaman belajar, kegiatan praktikum, serta motivasi langsung dari dosen. Sedangkan pada saat belajar secara daring mahasiswa akan dapat mengendalikan sendiri waktu belajarnya, dapat belajar di mana saja, kapan saja dan tidak terikat dengan metode pengajaran dosen.
https://www.webofscience.com/wos/author/record/CAA-2033-2022
Quo Vadis Pendidikan Tinggi Teologi Di Indonesia
Matius 28: 19-20, Kisah
Rasul 19:8-10
Perintah memberitakan Injil diberikan Yesus pada semua murid Kristus. Setelah
Kebangkitan, empat puluh hari lamanya Yesus menampakkan diri kepada
murid-murid-Nya. Dengan beragam cara dan dalam situasi beragam, Yesus
menampakkan diri kepada murid-murid-Nya agar murid-murid percaya dan tahu
dengan pasti, artinya mengalami pengalaman nyata perjumpaan dengan Yesus yang
bangkit dari kematian. Setelah peristiwa kehadiran Kristus dengan tubuh
kebangkitan, Maka Yesus naik ke surga disaksikan para murid yang telah menjadi
percaya. Selanjutnya, setelah kenaikan Yesus ke Surga, maka pada hari ke lima
puluh setelah kebangkitan, Yesus mengirimkan Roh Kudus untuk menyertai
murid-murid-Nya. Hari itu dirayakan sebagai hari Pentakosta.
Murid-murid Yesus yang telah percaya dengan kebangkitan Kristus, secara
khusus 12 murid dengan Matias yang ditambahkan sebagai pengganti Yudas menjadi
saksi kematian, kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga. Kedua belas murid Yesus
itu disebut Rasul, saksi mata tentang kehidupan Kristus, kematian, kebangkitan,
kenaikan ke surga dan janji Yesus akan datang kembali sebagai hakim yang agung.
Para Rasul itu menjadi saksi digenapinya rencana Allah untuk pengampunan dosa
manusia yang dikerjakan oleh Yesus di salib.
Salah seorang rasul yang bukan termasuk dalam dua belas murid Yesus
adalah Saulus yang kemudian disebut Paulus. Perjumpaan
Paulus dengan Yesus secara khusus, dan ajaran Paulus yang langsung diajarkan
oleh Yesus, serta perintah Yesus kepada Paulus untuk menjadi saksi Injil,
menjadikan Paulus setara dengan para Rasul. Paulus mengatakan dirinya yang
paling rendah dari para rasul.
Salah satu strategi Paulus yang jitu dalam mengabarkan Injil keseluruh
Asia adalah strategi pemuridan dengan melatih murid-muridnya di ruang kuliah
Tiranus. Tidak dijelaskan Apakah Paulus mendirikan sekolah teologi, tetapi
Paulus menggunakan ruang kuliah Tiranus untuk melatih murid-muridnya. Ada
penafsir yang menjelaskan bahwa kemungkinan Paulus menggunakan ruang kuliah
Tiranus ketika ruang kuliah itu tidak digunakan. Namun dapat dipahami, bahwa
melatih murid-murid secara khusus seperti pendidikan tinggi teologi merupakan
cara efektif untuk mempersiapakan tenaga-tenaga pemberita Injil. Paulus melatih
murid-murid nya selama dua tahun di ruang kuliah Tranus, dan melalui
murid-murid Paulus itu Injil tersebar luas di Asia.
Melatih murid seperti yang dilakukan Yesus, demikian juga melatih murid
seperti yang dilakukan Paulus di ruang kuliah Tiranus merupakan cara efektif
untuk memberitakan Injil. Itulah sebabnya penekanan kata dalam mandat Injil
adalah pada kata murid. Sekolah Tinggi Teologi saat ini merupakan wadah untuk
melatih murid-murid Yesus untuk membawa berita Injil, bukan hanya sebagai
pejabat gereja. Tetapi dengan kemajuan organisasi gereja, Sekolah Tinggi
Teologi atau biasa awalnya disebut seminari, merupakan wadah untuk
mempersiapkan pelayan-pelayan gereja. Tetapi, dengan banyaknya denominasi
gereja saat ini, dan perubahan kebijakan publik tentang pendidikan tinggi,
secara khusus pendidikan tinggi teologi seakan tak tahu arah, kemanakah
pendidikan tinggi teologi di Indonesia akan mengarah. Masihkah pendidikan
tinggi teologi berdampak bagi gereja dan institusi Kristen, secara khusus menghadirkan
terang Kristus di bumi Indonesia.
Kewajiban akreditasi mengharuskan pendidikan tinggi teologi bermutu,
pada sisi itu tentu menolong pendidikan tinggi untuk terus meningkatkan
mutunya, tetapi dengan keragaman dogma gereja, serta makin beragamnya program
studi, pedidikan tinggi teologi dapat berubah jenis pendidikan dari sekolah
tinggi menjadi institut, dan kemudian menjadi universitas. Pendidikan tinggi dengan keragaman program
studi bukan lagi hanya memenuhi kebutuhan gereja, tetapi juga lembag-lembaga
Kristen dengan beragam aktivitas, serta kebutuhan pegawai negri sipil ata
pegawai pemerintah yang menjanjikan peluang kerja lebih luas.
Persoalan kurikulum menjadi beban tersendiri bagi pendidikan tinggi
teologi yang tidak mempersiapkan diri dengan baik. Kondisi ekternal yang cepat
berubah tampaknya membuat banyak pendidikan tinggi teologi di Indonesia
kehilangan arah, dan tidak sedikit pendidikan tinggi teologi yang tak mampu
merumuskan Visi, Misi Institusi dan Visi keilmuan program studi untuk merespons
zaman yang cepat berubah itu. Wajar saja jika kita bertanya, mau kemana
pendidikan tinggi teologi di Indonesia?
Pendidikan Tinggi
Teologi Dan Pendidikan Warga Gereja
Pendidikan Warga Gereja
Tri tugas Gereja (Koinonia, Diakonia, Marturia) secara tegas menyatakan
bahwa warga gereja perlu bertumbuh dalam pengenalan akan firman Tuhan yang
baik, untuk hidup saling melayani, dan kemudian secara bersama menjadi saksi
Kristus. Pendidikan Warga gereja secara khusus dalam hal ajaran gereja (Dogma
gereja/Firman Tuhan) perlu menjadi perhatian gereja, secara khusus dalam era
global dengan kemajuan teknologi komunikasi yang membuat informasi apapun dapat
menembus ruang-ruang yang dulunya privat. Pentingnya pendidikan warga gereja
ini telah dibahas dalam jurnal-jurnal ilmiah teologi dan jurnal-jurnal
pendidikan agama Kristen.
Pendidikan Tinggi Keagamaan Kristen
Pendidikan tinggi keagamaan Kristen pada awalnya biasa disebut sekolah
teologi dan sekolah tinggi teologi. Sekolah teologi telah ada dalam banyak
gereja dengan tujuan memberikan pengetahuan teologi kepada jemaat untuk dapat
melayani dengan baik untuk mengerjakan Tri Tugas Gereja yang
diselenggarakan oleh gereja secara
eksklusif, dan juga kerja sama antara gereja dan sekolah tinggi teologi, dan
pada umumnya belum ada integrasi antara pendidikan warga gereja dan sekolah
tinggi teologi. Itu terlihat bahwa lulusan sekolah teologi di gereja ketika berkeinginan atau terpanggil
sebagai calon pendeta perlu mengulang seluruh mata kuliah yang ada di Sekolah
Tinggi Teologi dengan alasan bahwa mata kuliah yang di dapat di sekolah teologi
memiliki kualifikasi yang berbeda dengan yang ada di sekolah tinggi teologi. Pendidikan
tinggi teologi kerap dianggap sebagai orang khusus yang terpanggil untuk
menjadi pemimpin gereja, sedangkan pendidikan warga gereja adalah calon-calon
pelayan jemaat yang terbatas untuk membantu pimpinan gereja dalam memenuhi Tri
Tugas Gereja. Apalagi ketika ilmu teologi masih merasa menjadi ratu ilmu
pengetahuan, maka kurikulum pendidikan tinggi teologi tak mampu mempersiapkan
lulusannya dalam pelayanan atau pekerjaan yang lebih luas. Usaha
mengarusutamakan pendidikan tinggi teologi kerap dikumandangkan, tetapi
langkah-langkah untuk mengarusutamakan itu terganjal banyak hal, secara khusus
kepemimpinan pendidikan tinggi teologi.
Pada sisi lain, Integrasi pendidikan informal, non formal dan formal
merupakan amanat Sistem pendidikan nasional tahun 2003. Integrasi pendidikan
itu perlu mewujud dalam kurikulum pendidikan tinggi keagamaan Kristen
(pendidikan formal), dan pendidikan warga gereja (Pendidikan informal).
Lemahnya integrasi pendidikan informal (pendidikan agama dalam keluarga)
Pendidikan non formal (Pendidikan warga gereja), dan Pendidikan pada Pendidikan
Tinggi Keagamaan Kristen menyebabkan teologi gereja yang dinyatakan dalam Tata
dasar dan tata gereja tidak mengalami perkembangan teologi berarti, demikian
juga sebaliknya luaran-luaran pendidikan tinggi keagamaan Kristen tidak
mendapatkan tempat yang tepat di gereja.
Kehadiran para tokoh gereja yang mengaku tak mengenyam pendidikan
teologi merupakan sebuah sindiran terhadap pentingnya pendidikan tinggi
keagamaan Kristen, secara bersamaan juga menyiratkan bahwa luaran pendidikan
tinggi keagamaan Kristen tak memiliki dampak berarti bagi pengembangan dan
pertumbuhan gereja. Pada sisi lain tokoh-tokoh pendidikan tinggi keagamaan
Kristen tidak banyak yang hadir dalam diskusi-diskusi teologi gereja, kecuali
mereka yang merangkap jabatan sebagai dosen dan secara bersamaan juga sebagai
pendeta jemaat. Apalagi pendidikan tinggi teologi pada umumnya hanya berperan
sebagai benteng pelindung dogma gereja, Peran penelitian dan pengabdian
masyarakat Pendidikan Tinggi teologi masih sangat rendah.
Merdeka Belajar kampus
Merdeka
Landasan lain dari integrasi pendidikan warga gereja dan pendidikan
tinggi keagamaan Kristen dapat dibaca pada Pedoman kurikulum merdeka belajar
kampus merdeka tahun 2020, yang kemudian dikembangkan dalam permendikbudristek
dikti nomor 53 tentang penjaminan mutu, dan selanjutnya kurikulum dikti 2024. Pedoman
yang ditetapkan baik terkait penjaminan mutu maupun kurikulum merdeka belajar
kampus merdeka merupakan kebijakan
pemerintah yang mendasari pendidikan formal Pendidikan Tinggi keagamaan Kristen
untuk merumuskan integrasi pendidikan warga gereja dengan pendidikan tinggi
keagamaan Kristen.
Alternatif meningkatkan
kompetensi pelayan Kristen.
Warga gereja adalah input bagi Pendidikan Tinggi Teologi, secara khusus
mereka yang telah mengikuti pendidikan warga gereja (non formal) yang
bekerjasama dengan pendidikan tinggi keagamaan Kristen. Integrasi pendidikan
warga gereja akan mengakibatkan kualitas input pendidikan tinggi keagamaan
Kristen menjadi lebih baik. Pada sisi lain pendidikan tinggi keagamaan Kristen
perlu memiliki kemampuan untuk mengintegrasikan kegiatan belajar yang ada pada
pendidikan warga gereja dengan melakukan equivalensi terstruktur dan
equivalensi tidak terstruktur sebagaimana juga dijelaskan dalam kurikulum
merdeka dan merdeka belajar.
Pada sisi lain, pendidikan tinggi keagamaan Kristen perlu menyadari
bahwa Gereja adalah pengguna lulusan pendidikan tinggi teologi, pada semua
program studi, sehingga kemampuan pelayanan yang dikembangkan dalam gereja
perlu menjadi mata kuliah pada pendidikan tinggi keagamaan Kristen. Integrasi
itu akan membuat pendidikan tinggi keagamaan Kristen dapat memahami kebutuhan
gereja, sehingga kontribusi pendidikan tinggi teologi menjadi tepat sasaran.
Menurut penelitian saya sebagai Pembina pada banyak pendidikan tinggi
teologi, baik ketika berada sebagai ketua bidang penelitian Perkumpulan Dosen
dan Perguruan Tinggi Kristen Indonesia (PDPTKI), Ketua Umum Asosiasi Program
Studi Ilmua Keagamaan (APSIK), juga sebagai asesor lembaga akreditasi mandiri
kependidikan (LAMDIK), serta pernah menjadi narasumber perumusan kurikulum mengacu KKNI pada tahun
2017, dll. Terlihat jelas bahwa Perguruan Tinggi kegamaan Kristen belum mampu
melakukan integrasi pendidikan warga gereja dan pendidikan tinggi keagamaan
Kristen. Salah satu persoalannya adalah pendidikan tinggi keagamaan Kristen
pada umumnya belum mampu merumuskan kurikulum mereka dengan baik, sehingga
tidak memiliki rencana yang baik bukan hanya untuk luarannya, tapi juga seleksi
input, dan kemudian tentunya mengakibatkan proses untuk mencapai profil lulusan
tidak dapat dipetakan dengan baik.
Kurikulum adalah sebuah rencana, tanpa sebuah rencana yang baik tidak
dapat diharapkan hasil sesuai yang diharapkan. Salah satu rencana yang perlu
dirumuskan dengan baik adalah perumusan kurikulum dan pengembangan kurikulum
untuk merepons perubahan. Tanpa pemahaman Visi dan Misi yang baik, Konteks
kebijakan pendidikan di Indonesia, Pendidikan tinggi keagamaan Kristen akan tak
tahu akan kemana, dan tentunya tidak mampu membuat proyeksi untuk merespon
zaman yang terus berubah.
Penutup
Pendidikan Tinggi teologi perlu meningkatkan mutu secara berkelanjutan,
dan tentunya perlu melampaui standar yang ditetapkan oleh pemerintah. Disamping
itu pendidikan tinggi teologi perlu mengintegrasikan pendidikan warga gereja
dan pendidikan tinggi keagamaan Kristen. Gereja dan lembaga pendidikan tinggi
keagamaan Kristen, perlu membangun kemitraan bukan hanya pada gereja-gereja
sealiran dengan pendidikan tinggi keagamaan Kristen, tetapi juga kemitraan
dengan gereja-gereja yang beragam aliran untuk bersama meningkatkan kompetensi
tenaga pelayan Kristen.
https://www.binsarinstitute.id/2026/06/quo-vadis-pendidikan-tinggi-teologi.html
Doa Lintas Agama Dan Kepercayaan Untuk Keadilan Bagi Nadiem Makarim
Sila pertama dari Pancasila mengatakan kepercayaan rakyat Indonesia terhadap sesuatu yang ilahi yang disepakati bersama rakyat Indonesia menyebutnya ketuhanan Yang Maha Esa. Agama-agama, kepercayaan ataua agama budaya masyarakat Indonesia sepakat bahwa yang berdaulat atas bumi, dan tanah air Indonesia adalah Tuhan Yang Maha Esa.
Pada keyakinan sila ketuhanan Yang Maha Esa itulah menurut saya kita perlu membawa pengadilan Nadiem Makarim dalam kedaulatan Tuhan Yang Maha Esa agar terwujud pengadilan yang bersih, transparan, adil dan bermartabat untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur serta bersatu di dalam ikrar bersama Kemerdekaan Indonesia.
Mari kita berdoa di atas dasar keyakinan ketuhanan Yang Maha Esa untuk pengadilan yang bersih, transparan, adil dan bermartabat dan terhindar dari makelar kasus yang sempat menodai pengadilan Indonesia.
Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang kami sebut dalam sila pertama Pancasila, ketuhanan Yang Maha Esa. Apapun sebutan agama dan kepercayaan terhadap sesuatu yang ilahi, pencipta langit dan bumi, kami percaya bahwa Dikau adalah Allah yang berkuasa atas seluruh ciptaan, termasuk seluruh rakyat Indonesia yang merindukan hidup menjadi masyarakat adil dan makmur.
Kiranya kemuliaan Tuhan, pencipta langit dan Bumi bukan hanya ada disurga kekal, tapi juga di bumi Indonesia. Kiranya keadilan, kemuliaan, segala sesuatu yang meninggikan martabat manusia Indonesia, dalam persatuan, untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmut terwujud di Indonesia. Biarlah jendela terbuka yang Tuhan siapkan untuk kemakmuran negri ini dapat tewujud.
Pada saat ini kami juga membawa kesedihan rakyat Indonesia yang mencintai pendidikan, keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia berdoa untuk pengadilan Nadiem Makarim, Tuhan dikau tahu polemik yang terjadi atas tuntutan jaksa, yang menurut banyak saksi tidak adil, dan menurut Nadiem Makarim merupakan narasi yang taka da bukti. Kami berdoa biarlah pengadilanyang transparan terbuka untuk semua rakyat Indonesia. Tuhan kiranya juga melihat kekecewaan Nadiem Makarin yang telah berjuang untuk kemajuan pendidikan, digitalisasi pendidikan yang sangat penting dapat dihargai sepatutnya.
Kami juga berdoa jika ada oknum yang menciptakan ketidakadilan, bukti-bukti palsu Tuhan menghajar oknum itu sehingga tidak mengotori pengadilan di negri ini. Jika Tuhan menghendaki memberikan hukuman secara langsung kepada mereka yang tidak adil, dan merekayasa pengadilan untuk kepentingan tertentu, atau ada usaha makelar kasus, hukumlah mereka dengan keadilan Tuhan, supaya oknum itu bertobat dan menjalankan pengadilan yang adil.
Kami juga berdoa untuk semua orang yang tahu kebenaran dan keadilan, tapi tidak berani mengutarakan keadilan dan kebenaran, beri mereka keberanian untuk mengungkap kebenaran, dan lindungi mereka ketika membongkar ketidak adilan. Seblaiknya mereka yang terus berupaya menggelapkan bukti, dan terlibat makelar kasus hukumlah mereka jika mereka tidak bertobat, supaya mereka tidak melakukan kejahatan kepada lebih banyak orang.
Tuhan kami juga berdoa untuk seluruh keluarga Naddiem yang terpukul dengan kejadian itu, kuatkan mereka, hiburkan mereka, yakinkan mereka, Tuhan pencipta langit dan bumi berkuasa. Hukum tabur tuai biarlah ditegakkan oleh Tuhan sendiri dengan membangkitkan orang-orang jujur, adil untuk berada dalam pengadilan, dan memberikan keadilan kepada siapapun tanpa perbedaan.
Kiranya negri ini dapat keluar dari hal-hal yang memalukan bangsa dan rakyat Indonesia. Dan negri ini keluar dari kegelapan, dan menghadirkan terang, bukan hanya untuk seluruh rakyat Indonesia, tapi juga bagi bangsa-bangsa di dunia.
Dr. Binsar Hutabarat
www.binsarinstitute.id/2026/05/doa-keadilan-bagi-nadiem-makarim.html
https://youtube.com/shopcollection/SCUCPbNy6Yk99-gw4YZq2_FuyfTQvgv4icr3g?si=QDfKykRoz7RvknWk
Bisakah kita benar-benar bersatu dalam keberagaman agama? Mari kita cari tahu bersama!
Kita sering bertanya-tanya, apa yang terjadi ketika kita bersatu dalam keberagaman agama? Apakah kita bisa hidup harmonis, saling menghormati, dan bekerja sama untuk kebaikan bersama? Indonesia adalah contoh nyata negara dengan keberagaman agama yang luar biasa, dan kita akan menjelajahi bagaimana keberagaman ini membawa dampak positif.
Salah satu tantangan terbesar dalam mencapai unity dalam keberagaman agama adalah stereotip dan kesalahpahaman. Kita sering memiliki pandangan yang salah tentang agama lain, hanya karena kita tidak memahami atau tidak tahu tentang tradisi dan kepercayaan mereka. Contohnya, kita mungkin berpikir bahwa semua orang dari agama tertentu memiliki pandangan yang sama, padahal kenyataannya sangat beragam.
Mungkin kita juga pernah mendengar cerita tentang konflik antara kelompok agama yang berbeda. Ini memang terjadi, tapi tidak berarti bahwa kita tidak bisa bersatu. Kita harus belajar dari kesalahan masa lalu dan berusaha untuk memahami satu sama lain. Dengan memahami perbedaan, kita bisa membangun kepercayaan dan menghormati satu sama lain.
Tapi, ada banyak contoh positif tentang keberagaman agama di Indonesia. Kita bisa lihat bagaimana masyarakat dari berbagai agama bekerja sama dalam kegiatan sosial, seperti membantu korban bencana atau membangun sekolah. Mereka tidak mempedulikan perbedaan agama, tapi fokus pada kebaikan bersama.
Misalnya, ada sebuah proyek yang melibatkan masyarakat dari berbagai agama untuk membangun tempat ibadah bersama. Mereka bekerja sama, berbagi ide, dan saling menghormati, sehingga proyek ini berhasil dan menjadi contoh bagi masyarakat lainnya. Ini menunjukkan bahwa ketika kita bersatu, kita bisa mencapai hal-hal luar biasa.
Kita juga bisa lihat bagaimana dialog antar agama dapat membawa perubahan positif. Ketika kita duduk bersama, berbagi cerita, dan mendengarkan satu sama lain, kita bisa memahami perbedaan dan menemukan titik temu. Ini adalah langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih baik dan lebih harmonis.
Pesan yang ingin saya sampaikan adalah bahwa kesatuan dalam keberagaman agama bukan berarti kita harus menghilangkan perbedaan. Justru, kita harus merayakan perbedaan dan menemukan titik temu untuk kebaikan bersama. Ketika kita bersatu, kita bisa mencapai hal-hal luar biasa dan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.
Jadi, mari kita rangkum apa yang sudah kita pelajari. Ketika kita bersatu dalam keberagaman agama, kita bisa mencapai kekuatan dan keindahan yang luar biasa. Kita bisa hidup harmonis, saling menghormati, dan bekerja sama untuk kebaikan bersama.
Jika kamu memiliki pengalaman tentang keberagaman agama di daerahmu, saya ingin mendengarnya! Silakan berbagi cerita di kolom komentar. Jangan lupa subscribe channel ini untuk diskusi yang lebih menarik!
Join me as I take on the challenge of exploring how we can foster harmony among different religions and why achieving peace is more important than ever!
Religious harmony is all about living together in peace and mutual respect, valuing the diversity of faiths and beliefs that make our communities richer and more vibrant. It's about understanding that our differences are what make us stronger, not weaker. When people from different religious backgrounds come together, share their perspectives, and learn from each other, amazing things can happen. It fosters a sense of community, breaks down barriers, and builds bridges between people.
One of the biggest challenges we face today is the misunderstandings and stereotypes that often exist between different religious groups. For instance, some people might view Islam as a religion that promotes violence, simply because of the actions of a few extremists. But that's not the reality for the vast majority of Muslims who are peaceful, kind, and contributing members of their communities. Similarly, Christianity is often misunderstood as being intolerant or judgmental, when in fact, many Christians are at the forefront of promoting love, acceptance, and compassion. These stereotypes can lead to fear, mistrust, and even conflict.
Real-world examples of these challenges are plentiful. Think of the Rohingya crisis in Myanmar, where religious persecution led to a massive refugee crisis. Or consider the terrorist attacks that have occurred in various parts of the world, often carried out in the name of religion. These events highlight the urgent need for greater understanding, tolerance, and peace among different religious groups.
The media also plays a significant role in shaping public perceptions of different religious groups, often inadvertently perpetuating negative stereotypes. By being more mindful and responsible in their reporting, the media can help foster a more informed and empathetic public discourse.
So, how can we promote interfaith dialogue and cooperation? One way is through community-based initiatives, such as interfaith youth programs, cultural exchange events, and volunteer projects that bring people from different backgrounds together. For example, some cities have established interfaith councils that meet regularly to discuss issues of common concern and promote mutual understanding. These efforts can help build trust, foster empathy, and create a sense of shared humanity.
Education also plays a critical role in promoting interfaith understanding. By incorporating teachings about different religions and their histories into school curricula, we can help young people develop a more nuanced and informed understanding of the world's diverse faith traditions. This can help dispel myths, challenge stereotypes, and inspire a new generation of leaders to promote peace and understanding.
In addition to these efforts, individuals can make a difference by simply engaging with people from different faith backgrounds. By listening to their stories, asking questions, and sharing our own experiences, we can build bridges of understanding and create a more harmonious and peaceful world.
There's a powerful story that illustrates the transformative impact of achieving religious harmony. It's the story of the interfaith movement in Rwanda, which helped to bring people together and promote healing after the country's devastating genocide. Through initiatives like the Rwanda Interfaith Council, people from different faith backgrounds came together to promote forgiveness, understanding, and reconciliation. This movement helped to create a more peaceful and cohesive society, and serves as a powerful example of what can be achieved when people work together towards a common goal.
The story of Rwanda's interfaith movement is a testament to the human spirit and the power of compassion, forgiveness, and love. It shows that even in the face of great adversity, people can come together and create positive change.
In conclusion, working towards peace and understanding in a religiously diverse society is crucial for creating a world where everyone can live together in harmony. By embracing our differences and promoting interfaith dialogue and cooperation, we can build a brighter future for all.
So, what do you think about religious harmony? Share your thoughts in the comments below! Don't forget to check out our other videos on peace and community building for more inspiring stories and practical tips on how to make a positive impact in the world.
Bisakah kita benar-benar bersatu dalam keberagaman agama? Mari kita cari tahu bersama!
Kita sering bertanya-tanya, apa yang terjadi ketika kita bersatu dalam keberagaman agama? Apakah kita bisa hidup harmonis, saling menghormati, dan bekerja sama untuk kebaikan bersama? Indonesia adalah contoh nyata negara dengan keberagaman agama yang luar biasa, dan kita akan menjelajahi bagaimana keberagaman ini membawa dampak positif.
Salah satu tantangan terbesar dalam mencapai unity dalam keberagaman agama adalah stereotip dan kesalahpahaman. Kita sering memiliki pandangan yang salah tentang agama lain, hanya karena kita tidak memahami atau tidak tahu tentang tradisi dan kepercayaan mereka. Contohnya, kita mungkin berpikir bahwa semua orang dari agama tertentu memiliki pandangan yang sama, padahal kenyataannya sangat beragam.
Mungkin kita juga pernah mendengar cerita tentang konflik antara kelompok agama yang berbeda. Ini memang terjadi, tapi tidak berarti bahwa kita tidak bisa bersatu. Kita harus belajar dari kesalahan masa lalu dan berusaha untuk memahami satu sama lain. Dengan memahami perbedaan, kita bisa membangun kepercayaan dan menghormati satu sama lain.
Tapi, ada banyak contoh positif tentang keberagaman agama di Indonesia. Kita bisa lihat bagaimana masyarakat dari berbagai agama bekerja sama dalam kegiatan sosial, seperti membantu korban bencana atau membangun sekolah. Mereka tidak mempedulikan perbedaan agama, tapi fokus pada kebaikan bersama.
Misalnya, ada sebuah proyek yang melibatkan masyarakat dari berbagai agama untuk membangun tempat ibadah bersama. Mereka bekerja sama, berbagi ide, dan saling menghormati, sehingga proyek ini berhasil dan menjadi contoh bagi masyarakat lainnya. Ini menunjukkan bahwa ketika kita bersatu, kita bisa mencapai hal-hal luar biasa.
Kita juga bisa lihat bagaimana dialog antar agama dapat membawa perubahan positif. Ketika kita duduk bersama, berbagi cerita, dan mendengarkan satu sama lain, kita bisa memahami perbedaan dan menemukan titik temu. Ini adalah langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih baik dan lebih harmonis.
Pesan yang ingin saya sampaikan adalah bahwa kesatuan dalam keberagaman agama bukan berarti kita harus menghilangkan perbedaan. Justru, kita harus merayakan perbedaan dan menemukan titik temu untuk kebaikan bersama. Ketika kita bersatu, kita bisa mencapai hal-hal luar biasa dan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.
Jadi, mari kita rangkum apa yang sudah kita pelajari. Ketika kita bersatu dalam keberagaman agama, kita bisa mencapai kekuatan dan keindahan yang luar biasa. Kita bisa hidup harmonis, saling menghormati, dan bekerja sama untuk kebaikan bersama.
Jika kamu memiliki pengalaman tentang keberagaman agama di daerahmu, saya ingin mendengarnya! Silakan berbagi cerita di kolom komentar. Jangan lupa subscribe channel ini untuk diskusi yang lebih menarik!
https://www.binsarinstitute.id/2026/08/kuliah-umum-apsik_0395839676.html KULIAH UMUM APSIK "Kompleksitas Tantangan Pembanguna...