Tuesday, November 15, 2022

Teologi Kontekstual Kristen Nusantara




Teologi Kontekstual Kristen Nusantara

 Sebuah teologi yang mendasari kehadiran Kristen di bumi Nusantara, atau yang saya sebut Kristen Nusantara perlu dihadirkan untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan masyarakat, bangsa dan negara di bumi Nusantara, Indonesia.

Untuk mengembangkan teologi kontekstual ini sekolah-sekolah tinggi teologi perlu memainkan perannya. Sekolah-sekolah teologi perlu mengembangkan teologi akademis dan tentu saja tidak meningglkan teologi gereja.

Teologi akademis dan teologi gereja perlu berintegrasikan untuk memajukan teologi-teologi gereja di Indonesia.

Teologi akademis perlu mengembangkan teologi-teologi warisan gereja yang dijaga ketat di dalam tata gereja. 


Revisi Teologi Gereja

Teologi akademis perlu berani merevisi teologi gereja yang merupakan warisan gereja. 

Para akademisi tentu saja perlu belajar doktrin gereja, tetapi bukan menjadi pasukan yang disiapkan sekadar menjaga kelestarian doktrin gereja. 

Untuk sekolah-sekolah teologi yang didirikan gereja, tugas ini tidak mudah. Apalagi jika gereja yang mendirikan menjadi penyandang dana tunggal.

Sekolah teologi harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia. Karena itu gereja-gereja pendidikan teologi, tidak bisa mengimport begitu saja pemikiran teologi Barat. 

Pengenalan konteks Indonesia dengan segala keragamannya tidak boleh diabaikan. Teologi misi kontekstual harus terus menerus dikembangkan. Teologi itu harus terus berkembang demikian juga penerapannya dalam pelayanan di indonesia.


Dr. Binsar Antoni Hutabarat

Ketua Redaksi SiarBatavianews.com

www.siarbatavianews.com


 https://www.binsarhutabarat.com/2022/11/teologi-kontekstual-kristen-nusantara.html

Monday, November 14, 2022

Hermeneutika Alkitab




Hermeneutika Alkitab

Setidaknya ada dua perbedaan yang mendasar terkait keyakinan Alkitab, apakah sebagai firman Allah atau berisi firman Allah yang menjadi sumber dalam berteologi.

Pertama mereka yang percaya Allah hanya memberikan data-data atau fakta-fakta dalam Alkitab kemudian pembaca boleh menafsirkannya menurut pandangan mereka. 

Kelompok yang kedua mengatakan bahwa Allah bukan hanya menyatakan data-data atau fakta-fakta tentang Allah, tetapi juga Allah secara langsung menjelaskan tentang fakta-fakta itu. Ambil contoh, fakta Injil dipaparkan dalam kitab Injil Matius, Markus dan Lukas. Kemudian kitab-kitab selanjutnya menjelaskan tentang fakta Injil itu.

Teologi Alkitab

Hasil dari hermeneutika Alkitab adalah teologi Alkitab. Perbedaan hasil hermeneutik Alkitab itu terjadi karena keyakinan terhadap Alkitab sebagai sumber berteologi itu memiliki perbedaan.

 Kelompok pertama akan mengumpulkan data-data dalam Alkitab, kemudian berdasarkan data-data yang mereka miliki, maka mereka membangun rumusan teologi mereka. 

Semakin banyak data yang dikumpulkan maka makin baik generalisasinya, demikian juga rumusan teologi yang dihasilkan. Jika mengacu pada penelitian kualitatif , maka rumusan itu menjadi teori atau hipotesis yang bisa digugat kebenarannya.

Kelompok yang kedua bekerja lebih keras dalam menafsirkan Alkitab. Selain mengumpulkan data-data Alkitab, mereka juga mengelompokkan data-data itu dalam tema-tema tertentu, tapi juga memperhatikan kronologis dari data-data yang dikumpulkan, .

Kemudian mereka mengelompokkan data-data tersebut, dan berdasarkan data-data itu dibuatlah sebuah hipotesis atau teori. Tapi mereka juga membandingkannya dengan penjelasan Alkitab tentang data-data itu, sehingga mereka membangun teologi Yohanes, teologi Paulus dll. Teologi-teologi itu tidak boleh berkontradiksi, itulah sebabnya mereka menyebutnya Alkitab menafsirkan Alkitab

Penafsiran Alkitab yang murni

Kedua pandangan tersebut hampir tak memiliki perbedaan, hanya saja pandangan kedua akan lebih rendah hati untuk tidak menjelaskan apa yang Alkitab tidak jelaskan. Sedang yang pertama akan selalu tergoda untuk membuat hipotesis dari data-data yang dikumpulkan meski data-data Alkitab itu masih sangat sederhana. Ketika seseorang membangun sebuah hipotesis dari data yang sangat sederhana ini, maka pengetahuan itu bisa digolongkan pada pendapat bukan hasil rumusan teologi ilmiah.

Perdebatan yang terjadi biasanya bukan hanya pemahaman Alkitab yang terbatas, tetapi juga pemahaman peristiwa yang akan dikomentari juga terbatas. 

Pada kondisi ini kedua belah pihak yang berkonflik harus dengan rendah hati mengakui bahwa pendapatnya tidak memiliki pembuktian data yang cukup. Pada tataran ini perbedaan pendapat tidak harus membawa kepada konflik siapa yang memiliki penafsiran yang murni dan mana yang tidak murni.


Dr. Binsar Antoni Hutabarat

Kuliah Umum

      https://www.binsarinstitute.id/2026/07/kuliah-umum.html