Thursday, November 5, 2020

Moral Kerja Kristen






Moral Kerja Kristen

Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu, dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu. Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti. Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. (2 Tesalonika 3:  7-10)

 

Ora Et Labora sebagai Moral Kerja Kristen

Berdoa dan bekerjalah, Ora Et Labora merupakan pesan Paulus kepada jemaat di Tesalonika yang sedang bingung menantikan kedatangan Yesus yang kedua kali. Jemaat Kristen masa kini perlu setia menaikkan doa syafaat bagi pemberitaan Injil dan melakukan sehari-hari dengan bergairah untuk kemuliaan Tuhan.

 

Jemaat Tesalonika juga sudah diingatkan supaya mereka jangan bingung dan gelisah dalam menantikan kedatangan Yesus yang kedua kali. Kedatangan Yesus yang kedua kali ada dalam waktu Tuhan, dan umat Allah diminta untuk senantiasa siap sedia menyambut hari itu dengan tetap mengerjakan pekerjaan sehari-hari, dan tidak hidup dalam kemalasan.

 

Mereka yang malas bekerja diingatkan Paulus untuk tidak makan, karena kemalasan seseorang akan menjadi beban yang lain, yakni makan dari jerih lelah orang lain, bahkan bisa mengarah pada tindakan merampas milik orang lain karena dorongan rasa lapar atau kebutuhan yang tak terpenuhi dengan hidup bermalas-malasan.

 

Moral Kerja Kristen dalam Teladan Paulus

Sebagai seorang pelayan Injil, Paulus berhak mendapatkan dukungan dana dan sarana dari jemaat yang dilayani demi efektifitas pelayanan Paulus, sehingga Paulus bisa berkonsentrasi melaksanakan tugas pelayanannya.

 

Menariknya, pada banyak tempat Paulus justru berusaha mencukupkan diri sendiri dengan bekerja. Apalagi jemaat yang dilayani Paulus adalah jemaat rintisan yang umumnya belum kuat memberikan dukungan dana, sarana dan prasarana.

 

Paulus mengutamakan terlaksananya misi Allah yang diberikan kepada dirinya. Bekerja dengan kompetensi dirinya yang luar biasa, tentu saja bisa menghasilkan banyak uang. Namun, Paulus tidak berorientasi pada pengumpulan dana bagi kemegahan dirinya, sebaliknya fokus pada memperluas pemberitaan Injil.

 

Tak ada mimpi untuk berdiam di zona nyaman, meski Paulus tentu bisa mendapatkannya. Tidak ada keinginan untuk bermalas-malasan denga menggunakan dana yang diinvestasikannya. 


Paulus tidak kaya, tapi telah memperkaya banyak orang. Seluruh kekayaan Kristus dianugerahkan Allah kepada Paulus dalam Kristus. Tapi, bekerja melaksanakan misi Allah tak tergantikan dengan apapun.

 

Moral Kerja Kristen yang didemonstrasikan Paulus merupakan teladan bagi jemaat di Tesalonika. Paulus bukan hanya memerintahkan jemaat Tesalonika hidup tertip, berdoa syafaat dan melaksanakan pekerjaan sehari-hari, tapi moral kerja yang ditampilkan Paulus mampu berbicara lebih kuat, dibandingkan sebuah nasihat yang hanya bersifat verbalisme. 


Dr. Binsar Antoni Hutabarat


https://www.binsarhutabarat.com/2020/11/moral-kerja-kristen.html


Wednesday, November 4, 2020

Menceritakan Injil adalah hak asasi manusia




Menceritakan Injil adalah hak asasi manusia


Pemberitaan
Injil atau kabar baik, tak menyimpan bahaya apapun, kecuali sukacita dan kebahagiaan bagi mereka yang menerimanya. 
Masyarakat Indonesia dan dunia perlu mendengar berita Injil, itu adalah hak bagi semua manusia untuk mendengarkan berita sukacita tentang penebusan dosa yang berlaku dalam pengorbanan Yesus Kristus di salib.

Penjelasan Paulus tentang arti Injil bagi jemaat Tesalonika sejatinya akan membuka hati kita untuk merespon berita Injil dengan sudut pandang yang tepat, apalagi pemberitaan Injil adalah tanpa bujuk rayu dan paksaan, dan hanya bergantung pada Kuasa Roh Kudus.





  Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah mengatakan apa-apa tentang kamu. (I Tesalonika 1:8 )

 

Menceritakan Injil adalah hak asasi manusia, hak yang melekat dalam setiap manusia

 

Menceritakan kabar baik tentang pengampunan dosa yang dikerjakan oleh Yesus pada kayu salib yang mendamaikan manusia berdosa dengan Allah adalah tugas misi Allah untuk jemaat di Tesalonika, dan juga umat Kristen di seluruh dunia.

 

Menceritakan Injil adalah hak asasi manusia, karena semua manusia perlu mendengar Injil. Injil adalah kebutuhan yang melekat dalam kehidupan manusia berdosa. Tanpa pengampunan dosa yang dikerjakan Yesus di kayu salib, semua manusia berdosa harus menanggung hukuman dosa.

 

Demikian juga, setiap orang yang telah mendengar cerita Injil, dan menerima berita Injil dalam hidupnya, melalui pekerjaan Roh Kudus, diberikan mandat oleh Allah untuk memberitakan Injil kepada semua orang.

 

Umat Kristen yang telah dipenuhi hak nya, yakni mendengarkan cerita Injil, dengan demikian wajib untuk menceritakan Injil yang adalah tugas misi Allah untuk umat Kristen.

 

Tugas Misi Kristen

 

Misi Allah itu sendiri sesungguhnya bukan hanya membawa seluruh ciptaan untuk hidup dalam kebenaran, kebaikan dan memuliakan Allah pencipta langit dan bumi, tapi tugas misi Allah adalah juga menceritakan kabar baik kepada semua orang. Utamanya adalah memuridkan mereka yang menerima Injil untuk bisa hidup dalam iman yang menghasilkan pekerjaan kasih, bagi kemuliaan Allah. Jadi menerima Injil adalah jalan untuk membangun kehidupan bersama yang berkenan kepada Allah.

 

Melalui hidup dalam iman yang menghasilkan pekerjaan kasih itu, pemberitaan Injil bukan hanya sebuah verbalisme. Tapi, menceritakan Injil sekaligus menyaksikan hidup Kristen dalam iman kepada Allah yang maha kasih, dan kemudian membagikan kasih Allah itu kepada sesama manusia lewat pekerjaan-pekerjaan kasih, pekerjaan yang membawa kebaikan dan kesejahteraan bagi umat manusia.

 

Kuasa Allah dalam Injil

Karena kuasa Injil ada pada kuasa Allah, dan kuasa Allah yang hidup dalam diri orang percaya telah merubah kehidupan umat Kristen untuk hidup dalam kebenaran. Selanjutnya kehidupan iman Kristen itu  yang nyata dalam pekerjaan-pekerjaan kasih, maka menceritakan Injil sekaligus juga menceritakan karya kasih Allah dalam hidup pemberita Injil.

 

Gereja di Tesalonikan dan gereja mula-mula kerap memberitakan Injil pada orang-orang disekitar mereka, dan pada daerah-daerah dimana Tuhan mengirim mereka untuk memberitakan Injil, dan secara bersamaan melakukan pekerjaan-pekerjaan kasih.

 

Setiap orang yang telah menerima Injil, mengalami pembaruan hidup, sadar bahwa menerima berita Injil adalah menerima sesuatu yang amat berharga, yaitu yang memberikan kehidupan kekal. Dan itu hanya mungkin karena kehadiran kuasa Allah yang menyertai pemberitaan Injil.


Pemberitaan injil dan Pemilihan Allah


Pemilihan Allah adalah kedaulatan Allah, apabila gereja mengakui sebagai umat pilihan Allah, maka tidak ada alasan bagi umat Kristen untuk tidak memberitakan Injil.

 

Umat Kristen perlu hidup di atas kebenaran Allah. Hidup dalam pimpinan Roh Kudus untuk hidup berbuah serta menjalankan pemberitaan Injil.

 

Karena keselamatan adalah pekerjaan Allah, maka tidak ada alasan untuk umat Kristen berhenti memberitakan Injil karena penolakan-penolakan yang dialami, atau adanya aniaya dan penderitaan yang menghalangi pemberitaan injil.

 

Umat Kristen harus tetap antusias, bersemangat, bergairah menyampaikan cerita Injil. Antusiasme untuk memberitakan Injil akan tetap terjaga jika memang pembaruan Allah terus terjadi dalam kehidupan Kristen. Cerita Injil adalah hak asasi manusia, kebutuhan yang melekat dalam diri manusia untuk memiliki hidup kekal.

 

Dr. Binsar Antoni Hutabarat

 

 https://www.binsarhutabarat.com/2020/10/menceritakan-injil-adalah-hak-asasi.html

 

 

Kuliah Umum

      https://www.binsarinstitute.id/2026/07/kuliah-umum.html