Tuesday, January 14, 2025

Academic Writing

 


https://www.facebook.com/binsarinstitut/subscribe/

Academic Writing perlu untuk memperlengkapi peneliti agar dapat mempublikasikan hasil penelitian dengan bebas plagiasi.

Ini alasan mengapa pelatihan menulis karya ilmiah diperlukan!

Penulisan artikel ilmiah merupakan kewajiban bagi dosen perguruan tinggi, itu dinyatakan secara tegas dalam Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Tanpa menghasilkan karya ilmiah pada jurnal akademik, seorang calon dosen tidak dapat diangkat menjadi dosen tetap dengan jabatan fungsional minimal asisten ahli.

 

Sedang untuk mahasiswa Program Sarjana  dan Pascasarjana baru bisa dinyatakan lulus, kemudian diwisuda, jika artikel ilmiah yang mengacu pada hasil penelitian karya akhir mahasiswa itu dimuat di jurnal akademik.

 

Pada sisi lain, publikasi hasil penelitian dosen dan tamatan pendidikan tinggi masih sangat rendah. Salah satu faktor penyebabnya adalah belum berkembangnya budaya menulis di masyarakat pada umumnya, dan juga perguruan tinggi khususnya.

 

Berbekal pengalaman menjadi peneliti dan penulis artikel ilmiah populer dan penulis artikel ilmiah akademik, Dr. Binsar A. Hutabarat, seorang tamatan Doktor pada Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta terbeban untuk menyemaikan budaya menulis pada dosen dan mahasiswa perguruan tinggi dengan melakukan seminar, pelatihan riset dan penulisan karya ilmiah akademik.

Nara Sumber:

 

Monday, December 16, 2024

Membela Tuhan?

 

Apologet Agama Perlu Membela Tuhan?

 

Berita agama sejatinya meghadirkan damai, kebaikan dan penghargaan terhadap sesama manusia. Tuhan  pencipta manusia tentu bukan hanya menjelaskan diri-Nya untuk dikenal manusia. Tuhan menjelaskan pekerjaan dan kehendak Tuhan agar manusia beragama dapat hidup mentaati Tuhan.

Hidup mentaati Tuhan dengan melakukan hukum-hukum Tuhan yang baik tentu saja secara bersamaan akan membawa umat beragama hidup mengasihi sesama, dan berusaha untuk kesejahteraan sesama manusia.

Tapi pada realitasnya kenapa mereka yang terjebak dalam fanatisme beragama justru menjadi gerakan-gerakan radikalisme. Menurut saya apologet yang memaki agama yang berbeda dengan kata-kata kotor, kutukan sama saja ingin menghapus yang berbeda di ruang public, dan itu bida dikategorikan radikalisme agama medsos.

 

Wajah ganda agama

Agama pada satu sisi dapat menjadi agen pembawa damai, namun pada sisi alin juga menampilkan wajah garang yang tampil dalam koflik agama.

Umat beragma di Indonesia, termasuk umat Kristen perlu mewaspadai fanatisme agama yang dekat dengan radikalisme agama yang kerap menampilkan kekerasan agama.

Radikalisme tidak identik dengan terorisme, namun, upaya preventif agar mereka yang memiliki paham radikal itu  tidak terkooptasi menjadi teroris harus dikerjakan secara bersama.

Dalam terminologi politik, istilah “radikalisme” mengacu pada individu atau gerakan yang memperjuangkan perubahan sosial atau sistem politik secara menyeluruh.

Radikalisasi dalam beragama muncul di tengah panggung politik secara global.  Kekerasan atas nama agama seringkali muncul dari perbedaan dalam memahami kitab suci dan agama itu sendiri. Gerakan-gerekan itu tampaknya hadir dalam dunia medsos, apalagi kepentingan ekonomi memiliki pengaruh yang kuat, dan tentu saja kepentingan politik, yaitu menguasai ruang public medsos.

 

Pelaku tindakan kekerasan atas nama agama merasa paling beriman di muka bumi. Karena menganggap diri sebagai makhluk agung di antara manusia, mereka mengangkat dirinya sebagai orang yang paling dekat dengan Tuhan. Karena itu gemar memaksakan kehendaknya seolah-olah menjadi Tuhan atas semua orang.

 

Kaum radikalisme agama memandang dirinya berhak memonopoli kebenaran, seakan-akan mereka telah menjadi wakil Tuhan yang sah untuk mengatur dunia ini berdasarkan tafsiran monolitik mereka terhadap teks suci.

 

Kelompok Radikalisme agama ini kerap  mengumandangkan  penolakannya untuk memberikan proteksi terhadap  kebebasan beragama yang ditetapkan dalam konstitusi negeri ini.

 

 “sebagian besar orang memang mengakui keberagaman dan perbedaan, namun dengan sikap curiga dan merasa terancam, sehingga tidak terjadi pergaulan yang saling memperkaya.”

 https://www.binsarinstitute.id/2024/12/membela-tuhan.html

Kuliah Umum

      https://www.binsarinstitute.id/2026/07/kuliah-umum.html