Monday, August 10, 2026

LIFT dan PISA

 


 

 https://www.binsarinstitute.id/2026/08/lift-dan-pisa.html

  

 LIFT dan PISA: Salah Diagnosis, Salah Solusi

Membangun Akar Transformasi Pendidikan Indonesia

Narasi LIFT (Literacy for the Future) tentang rendahnya kemampuan membaca, matematika, dan sains murid Indonesia—sebagaimana tercermin dalam hasil PISA—kini mulai menggema.

Seperti saban kali saya sampaikan, sekitar 75–80% murid Indonesia masih berada pada tingkat kemampuan minimum dalam membaca, matematika, dan sains. Sementara itu, kurang dari 1% yang mencapai tingkat kompetensi global. Ini persoalan sudah dua dekade lebih yang saya namakan krisis kronis struktural.

Namun, jika solusi yang terus ditawarkan masih bertumpu pada perubahan kurikulum, berarti kita belum memahami akar persoalannya.

LIFT sejak awal berangkat dari satu pemahaman sederhana: akar utama rendahnya hasil PISA Indonesia adalah lemahnya kemampuan membaca.

Kemampuan membaca tidak hanya dibentuk di sekolah. Ia juga dibentuk di rumah, oleh budaya membaca, dan oleh ketersediaan bahan bacaan. Di sinilah Indonesia mengalami defisit besar. Anak tidak mungkin gemar membaca jika tidak ada yang dibaca.

Buku bacaan nonteks masih sangat terbatas. Perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum jauh dari memadai, bahkan di banyak tempat sangat memprihatinkan. Akibatnya, praktis anak-anak Indonesia tumbuh tanpa akses memadai terhadap buku dan tanpa ekosistem yang membiasakan mereka membaca.

Pandangan ini bukan hal baru. Dalam buku Indonesian Dream: A Pursuit of a Winning Nation (2009), saya telah mengangkat persoalan yang sama. Data PISA 2006 menunjukkan sekitar 87% murid Indonesia sudah bisa membaca, tetapi belum memahami apa yang mereka baca. Pada saat yang sama, Susenas BPS 2006 menunjukkan hanya sekitar 13% penduduk berusia 10 tahun ke atas yang membaca buku nonpelajaran dalam satu minggu terakhir. Keduanya menunjukkan akar persoalan yang sama: lemahnya budaya membaca.

Jadi, persoalan utamanya bukan semata-mata kurikulum. Persoalannya adalah akses terhadap buku bacaan dan ekosistem pembelajaran bermutu.

Karena itu, LIFT mengembangkan NEXUS (Nurturing Excellence in Literacy, Science, and Character). Bukan sekadar program membaca, tetapi sebuah inovasi yang membangun ekosistem pembelajaran dengan melibatkan sekolah, keluarga, komunitas, dunia usaha, dan pemerintah daerah.

Sasarannya jelas: memperluas akses terhadap buku bacaan bermutu sekaligus membangun ekosistem budaya membaca secara terarah, sistematis, dan berkelanjutan. 

Transformasi pendidikan tidak akan lahir dari sekolah saja. Tidak pula dari perubahan kurikulum atau regulasi semata. Transformasi hanya terjadi ketika seluruh pemangku kepentingan bergerak bersama. Itulah kekuatan ekosistem.

Itulah filosofi LIFT dan fondasi NEXUS. Sebuah koreksi mendasar terhadap cara kita membangun pendidikan Indonesia. Dan itulah salah satu jalan utama menuju transformasi pendidikan Indonesia.

(Elwin Tobing, Profesor ekonomi, Presiden INADATA, Irvine, AS; Menulis buku “NOW or NEVER” yang memberikan blueprint transformasi ekosistem inovasi nasional sebagai syarat mutlak menuju Indonesia Emas 2050. Elwin juga mengembangkan Gerakan LIFT- Literacy for the Future dan Inovasi NEXUS sebagai suatu ekosistem mentransformasi literasi, karakter, dan minat sains anak murid Indonesia). 

https://nasional.kompas.com/read/2026/08/06/20091311/skor-pisa-pendidikan-indonesia-rendah-prabowo-kita-terima-sebagai-koreksi

Renungan Agama Kristen

 

 


 RENUNGAN, SENIN 10.08.2026.


DIPERSATUKAN OLEH DARAH KRISTUS.
(Efesus 2: 13-(11-22, sesuai SBU).

1.Ada dua golongan orang yang ada dalam jemaat Efesus. Mereka terpisah karena persoalan kesukuan, agama, budaya dan sosial. Golongan Yahudi disebut sebagai  golongan bersunat, dan golongan non Yahudi sebagai golongan tidak bersunat. Orang-orang non Yahudi tidak termasuk kewargaan Israel, karena itu dipahami sebagai orang-orang yang hidup tanpa Kristus (ay.11-12).

2.Di dalam Kristus mereka yang tadinya berjauhan, dipersatukan oleh darah Yesus. Jurang pemisah yang memisahkan mereka, dijembatani. Tidak ada lagi Yahudi dan non Yahudi. Kristus adalah damai sejahtera kita, yang mempersatukan kedua pihak dengan merobohkan tembok pemisah yaitu perseteruan, dengan darah-Nya (karya salib-Nya)(ay.14-16).

3.Kematian-Nya di kayu salib adalah satu-satunya cara untuk mendamaikan seluruh umat manusia dengan Allah. Mereka yang percaya kepada-Nya menjadi kawan sewarga, anggota-anggota keluarga Allah. Karena itu mereka memiliki ikatan bersama yang lebih dalam dan lebih kuat dari pada perbedaan suku, warna kulit, status, jenis kelamin dan perbedaan latar belakang apapun (ay. 17-19).

4.Kebersamaan, kesatuan menjadi hal yang sulit didapatkan dan diwujudkan pada saat ini. Manusia lebih memperhatikan kepentingannya dan kelompoknya. Adanya diskriminasi di segala lini. Belum lagi arogansi dan kejahatan. Mari belajar dari Yesus yang rela mencurahkan darah-Nya demi mewujudkan kesatuan dan menjembatani jurang pemisah. Mari meneladani Yesus, karena di dalam Dia ada kasih, kerendahan hati, ketaatan dan pengorbanan yang mempersatukan.

SELAMAT BERAKTIVITAS DI MINGGU YANG BARU (siz).

 Sealthiel Izaak ( Diambil dari Grup Alumni I-3

 https://www.binsarinstitute.id/2026/08/renungan-agama-kristen.html

 

Kuliah Umum Apsik

  https://www.binsarinstitute.id/2026/08/kuliah-umum-apsik_0395839676.html         KULIAH UMUM APSIK "Kompleksitas Tantangan Pembanguna...