Podcast Rukun Beragama

Video

Tuesday, December 20, 2022

Kebebasan Dalam Kehidupan Kristen

  



https://linktr.ee/binsarantonihutabarat 

 Apa yang kita percaya dan bagaimana kita bertingkah laku mestinya selaras. Paulus biasanya menghubungkan dengan istilah doktrin dan tugas. Apa yang Allah telah kerjakan untuk kita itulah yang memotivasi kita untuk mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan kehendak Allah.

Kita dimerdekakan oleh Allah utuk melaksanakan misi Allah yang menjadi kewajiban kita. Kebebasan Kristen adalah untuk melaksanakan perintah Allah. Dibebaskan untuk menjadi seperti Kistus. Manusia sejati yang bebas dan melakukan perintah Allah. Kebebasan dalam kehidupan kristen tidak perlu dipertentangkan dengan kewajiban untuk melaksanakan hukum-hukum Allah atau perintah-perintah Allah.

Terkait relasi antara kebebasan dan kewajiban setidaknya ada tiga pandangan yang kemudian membentuk Pola etika. Yakni Pola Etika Heteronom (Kaidah yang lain, diluar diri manusia), kaidah  otonomi (kaidah diri sendiri), Teonomi (kaidah Tuhan).

Mereka yang mengikuti pola heteronomi beranggapam bahwa apa yang Tuhan perintahkan harus dilakukan, apakah kita setuju atau tidak setuju itu tidak penting, demikian juga apakah kita mengerti atau tidak, yang jelas apa yang Tuhan katakan dalam Alkitab harus dilakukan.

Memegang pola ini akan mengakibatkan seseorang jatuh pada legalisme. Seperti orang farisi yang menganggap diri paling benar dan telah melakukan Firman Tuhan dengan benar. Tidak ada orang yang lebih benar dari mereka. Sayangnya, kita tahu mereka yang jatuh pada legalisme ini sangat keras pada diri sendiri, tetapi tidak untuk diri sendiri.

Seperti orang-orang Farisi yang gemar menghukum orang lain, gemar mencela orang lain orang berdosa, sesat dan jauh dari Allah. Alkitab mengatakan mereka melihat kuman di seberang lautan, atau kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak. Itulah bahaya legalisme.

Disamping itu, mereka yang memegang pola etika ini juga merendahkan dirinya sebagai manusia. Melakukan tindakan lahiriah tanpa selaras dengan motif pelaku. Memisahkan masalah batin dan lahiriah.  Padahal seharusnya apa yang kita lakukan selaras dengan motif yang ada di dalam batin kita.

Dikatakan merendahkan manusia, karena tindakan ini menyangkali adanya kebebasan manusia. Karena hukum-hukum itu berasal dari luar diri manusia, maka manusia harus mengikuti saja apa yang dikatakan Tuhan, Dan manusia yang melakukan kewajiban itu terpaksa melakukannya, dan karena terpaksa melakukannya, maka mereka merasa tidak bertanggung jawab atas dampak yang terjadi atas tindakan mereka. Itu bukan urusan saya, tapi itu urusan tuhan.

Pandangan yang kedua adalah pandangan otonomi. Mereka mengatakan, manusia tunduk pada patokan-patokanyang ditetapkan oleh rasio manusia yang dtetapkan oleh rasio yang bersifat universal. Ungkapan yang tersohor dari kelompok ini adalah, saya wajib maka saya mampu. Kewajiban mutlak. Imperatif Kategori dalam istilah Kant.

Orang-orang itu mungkin perlu bertanya dalam hati mereka, seandainya semua orang berkelakuan sesuai dengan kelakuan diri kita, apakah dunia ini menjadi lebih baik ataukah justru lebih buruk?

Jadi, asal lulus ujian rasio, kewajiban etis dapat dikenal sebagai kewajiban mutlak. Mereka mengakui bahwa kewajiban moral adalah perintah ilahi. Dan untuk melakukan itu eksistensi Allah diperlukan.

Pahlawan moral seperti ini akan terus jalan tanpa Allah. Kebanyakan orang seperti ini , menyukai hidup dibawah rezim otoriter. Tampak jelas etika ini sama saja dengan heteronomi yang menetapkan hak-hak dan kewajiban yang hanya mesti diterima saja. Karena lulus ujian rasio karena itu harus dilakukan.

Saya setuju, tidak ada tata moral yang berdiri di antara kita dan Allah. Tak ada kewajiban rasional yang mendahului perelasian kita dengan Allah. Jika tidak ada relasi antara Allah dan manusia, maka manusia tidak mungkin dapat melaksanakan kewajibannya dalam kebebasannya.

Manusia menjadi manusia dalam kebergantungan dengan Allah. Manusia tidak dapat melaksanakan kewajibannya dalam kebebasannya tanpa bergantung dengan Allah. Di dalam kebergantungan dengan Allah itulah manusia memiliki kebebasannya, dan sekaligus dapat melaksanakan kewajibannya.

Dalam alam demokrasi di Indonesia gereja dan agama-agama harus bisa menempatkan diri secara tepat. Jika tidak maka disintegrasi bangsa menjadi taruhannya, apalagi dengan ditempatkannya agama pada posisi yang terhormat pada negeri ini,

Agama-agama bukan hanya perlu hidup berdampingan dengan agama-agama lain, tetapi juga dengan berbagai denominasi gereja, bahkan dengan mereka yang disebut bidat sekalipun. Gereja-gereja di Indonesia perlu berpikir maju, dan tidak sekadar mengikuti pengalaman tokoh-tokoh agama pada masa lampau.

Teologi itu tidak pernah lahir di ruang hampa. Gereja-gereja di Indonesia harus bisa merumuskan teologinya dan mengambil sebuah keputusn etis bagaimana menjaga kerukunan hidup bersama dengan denominasi gereja yang beragam dan juga dengan agama-agama lain.

Mereka yang berlaku arogan dengan dengan denominasi gereja lain mesti mempertimbangkan apa jadinya, kalau sikap arogan itu juga dilawan dengan sikap arogan kembali. Jangan berlindung di alam demokrasi untuk untuk mengingkari tanggung jawab membangun sebuah demokrasi yang sehat.

Kalau memang gereja-gereja di Indonesia hidup untuk memuliakan Tuhan dalam pertolongan Tuhan, maka sejatinya bukan arogansi denominasi atau agama yang muncul, tapi sikap saling membangun kehidupan yang sehat dalam hidup bersama untuk merawat kehidupan.

Kita jangan lupa, konteks gereja masa lampau berbeda dengan alam demokrasi saat ini. Dan juga jangan terlena dengan jaman kejayaan gereja yang menguasai negara, yang berakibat kepemimpinan gereja pada abad pertengahan justru menjadi abad kegelapan gereja.

Jika Tuhan mengijinkan denominasi lain ada, janganlah cepat-cepat mengatakan mereka yang berbeda penafsiran dengan kita itu sesat. Karena bisa jadi hanya ada perbedaan kecil, dan banyak kesamaan yang jauh lebih besar.

Gereja memang punya kewajiban untuk menjaga kemurnian gereja, tapi pertanyaannya apakah pemurnian gereja yang kita lakukan akan membuat gereja lebih baik?

Mereka yang menganggap ibadahnya paling benar, doktrinnya paling benar, sama saja menyangkali keterbatasannya memahami Firman Tuhan. Aneh bukan, mereka yang menganggap menjadi pembela-pembela kebenaran, penjaga kemurniam gereja saat ini mengapa menjadi sangat arogan?

Apakah para rasul memang arogan? Menurut saya Tak ada para rasul yang arogan, mereka hanya menyaksikan apa yang mereka percaya. Lihatlah bagaimana Paulus berdiskusi di Areopagus. Bahkan menjelang kematiannya Paulus mengatakan, bahwa dari antara para rasul dialah yang paling berdosa. Berbeda dengan kita yang menganggap diri paling benar, paling suci. Paling murni. Saya juga tidak paham seberapa murnikah doktrin gereja-gereja itu. Sebagai seorang peneliti, tentu saya paham, tidak ada pemahaman kita yang orisinil, kita belajar dari banyak orang, dan kita mengembangkan pemikiran-pemikran teologi yang telah ada itu. Jadi, kenapa harus berhenti untuk terus belajar lebih mendalam?

Hidup harmoni dengan sesama gereja itu penting, demikian juga dengan sesama manusia. Dari hidup bersama itulah kita bisa menyaksikan Kristus yang hidup. Apalagi kita hanya menunjuk kepada Yesus. Bukan pada kita.

Yang perlu kita renungkan adalah, apakah dalam hubungan antar gereja dan antar sesama kita telah melaksanakan kebebasan kita dengan tepat, dan juga melaksanakan kewajiban-kewajiban kita. Hanya dalam Yesus kita bisa melaksanakan kewajiban-kewajiban kita, menjalankan misi Allah dan dalam kebebasan, dan itu hanya mungkin kita lakukan dalam rekasi dengan Tuhan.

Apakah kita masih merasa diri lebih baik dari orang lain. Waspadalah.


https://www.binsarhutabarat.com/2022/12/kebebasan-dalam-kehidupan-kristen.html

Sunday, December 18, 2022

Larangan Merayakan Natal Bupati Lebak

 


https://linktr.ee/binsarantonihutabarat 

Tahun ini Kementerian Agama mengijinkan umat Kristen  merayakan Natal dengan 100 % kehadiran anggota jemaat. Sayangnya tak jauh dari pusat pemerintahan, di Lebak, Kecamatan Maja, Banten, hadir berita menghebohkan terkait larangan merayakan Natal.

Setelah heboh berita larangan Natal Bupati Lebak Banten tepatnya di Kecamatan Maja, Lebak, Banten, Bupati Lebak kemudian melontarkan alasan  mengapa ia mengeluarkan larangan merayakan Natal di Kecamatan Maja yang kontroversial. Menurutnya, tak ada gereja yang memiliki ijin pendirian Gereja di Kecamatan Maja.

Pemerintah secara khusus melalui Kementerian Agama sedang giat-giatnya mempromosikan moderasi beragama. Ironisnya promosi terhadap intoleransi agama yang bertentangan dengan moderasi agama tak kalah gencar promosinya, tak tanggung-tanggung yang mempromosikannya juga pejabat publik, salah satunya adalah larangan merayakan Natal di Kecamatan Maja, Lebak, Banten.

Setelah kontroversi yang memenuhi media massa, Bupati Lebak kemudian melakukan klarifikasi bahwa ia tidak melakukan pelarangan umat Kristen Merayakan natal di Kecamatan Maja, tetapi meminta umat Kristen merayakan Natal di Rangkas Bitung yang memiliki gereja dengan ijin pendirian rumah ibadah.  

Sayangnya klarifikasi itu lagi-lagi tak sesuai dengan semangat moderasi beragama, pemerinta daerah Lebak, Banten bukannya memfasilitasi umat Kristen untuk beribadah justru melepaskan tanggung jawabnya dengan memerintahkan umat Kristen di Kecamatan Lebak banten merayakan Natal di Rangkas Bitung.

Tak ada Ijin Gereja di Maja

Alasan larangan merayakan Natal  di Maja menurut Bupati Lebak Banten adalah karena tak ada satu gereja pun di Maja yang memiliki ijin pendirian Gereja. Menurutnya, karena tidak ada gereja yang memiliki ijin pendirian Gereja, maka umat Kristen di Lebak tidak boleh merayakan Natal. Perayaan di Kecamatan Maja dilarang dilakukan di Ruko, dan di rumah-rumah.

Alasan pelarangan perayaan natal di ruko dan di rumah-rumah jelas salah nalar. Pemerintah daerah sepatutnya memberikan fasilitas ibadah baik untuk gereja yang memiliki ijin pendirian gereja maupun gereja yang belum mampu membangun rumah ibadah. 

Peraturan Bersama menteri tentang pendirian rumah ibadah semangatnya adalah untuk memfasilitasi umat beragama memiliki tempat ibadah, namun pada realitasnya justru telah menjadi instrumen larangan beribadah secara berkelompok, atau tegasnya menjdi instrumen penutupan rumah ibadah.

Terlalu banyak rumah ibadah di negeri ini yang tak memiliki ijin, dan apa salahnyaa jika pemerintah memfasilitasinya. Bukankah agama memiliki posisi penting bagi pembangunan bangsa Indonesia? 

Mestinya sebagai wujud kebebasan beribadah baik secara pribadi maupun secara berkelompok, pemerintah daerah wajib memfasilitasi tempat beribadah.

Larangan beribadah di ruko atau di rumah tidak membahayakan siapapun, sebaliknya kelompok-kelompok yang mengancam ibadah di rumah atau di ruko itu perlu dibubarkan karena itu merupakan pelanggaran hukum, dan pelanggaran terhadap hak assi manusia untuk beribadah.

Menguatkan moderasi beragama

Salah satu persoalan menguatnya intoleransi beragama yang tidak sesuai dengan moderasi beragama adalah karena peran tokoh publik. Bukan hal yang langka para tokoh publik itu berusaha meraup suara dengan menggunakan agama. Itulah sebabnya setelah mereka terpilih, perjanjian dengan kelompok tertentu menjadi hutang poltik yang perlu di bayar.

Pemerintah pusat boleh-boleh saja menggaungkan moderasi beragama, tetapi jika secara bersamaan pemerintah daerah melakukan promosi intoleransi beragama, maka usaha menguatkan moderasi beragama menjadi tidak efektif.

Sudah sepatutnya pada dunia yang makin heterogen, pemerintah di seluruh muka bumi ini menyadari bahwa daerah tertentu bukanlah milk eksklusif suku,bangsa,agama tertentu. Kita hidup dalam bumi yang satu, dan sepatutnya hidup bersama dengan rukun.

 https://www.binsarhutabarat.com/2022/12/larangan-merayakan-natal-bupati-lebak.html

Wednesday, December 14, 2022

Sekularisme dan agama sekuler


https://linktr.ee/binsarantonihutabarat 


Sekularisme menurut saya adalah agama. Membuang jauh-jauh agama dari ruang publik, sama saja mendirikan agama baru yang memaksakan semua orang untuk mengikutinya. 


Itulah sebabnya, negara sekuler sebenarnya negara dengan agama sekuler, absolutisme yang mengusir agama-agama lain dalam ruang publik.


Indonesia bukan negara agama dan bukan negara sekuler itu sudah tepat. Indonesia bukan negara bukan-bukan, Indonesia adalah negara semua buat semua ungkap Presiden Sukarno. 

Indonesia juga negara satu untuk semua, semua untuk satu. Tidak ada tirani minoritas, dan tidak ada dominasi mayoritas. 


Joe Biden, Presiden Amerika Serikat mungkin mendapatkan sorak sorai karena melegalkan pernikahan sesama jenis, tapi sekaligus juga dimaki mereka yang terdeskriminasikan. 

Mengapa lembaga agama di luar agama sekuler itu harus mensahkan pernikahan sesama jenis? 

Bukankah itu pemaksaan dan penyeragaman, kenapa tidak dibebaskan saja masyarakat yang tidak menerima pernikahan sesama jenis?

Kebijakan publik itu memaksakan, itulah sebabnya pertarungan dalam menentukan kebijakan publik sangat kuat. 

Negara bisa saja memberikan aturan permainan, tetapi jangan lupa komunitas yang saling berkompetisi itu tidak peduli dengan aturan,  itulah sebabnya untuk menghindari pemaksaan sebuah kebijakan, perumusan kebijakan menjadi pertarungan sengit.


Masih tidak peduli dengan kebijakan publik yang deskriminatif? 

Tunggu saja akibatnya, kebijakan deskriminatif itu akan membelenggu siapa saja yang jadi target deskriminasi kebijakan Itu!

Mari awasi seluruh kebijakan publik dinegeri ini, kebijakan publik yang unggul pastilah menghadirkan kedamaian dalam hidup Bersama.


https://www.binsarhutabarat.com/2022/12/sekularisme-dan-agama-sekuler.html


Saturday, December 10, 2022

Yesus Terang Hidup, Sumber Kehidupan Kekal

 Yesus Terang Hidup, Sumber Kehidupan Kekal

 




Terang itu bercahaya dalam kegelapan dan kegelapan tidak menguasainya. (Yohanes 1:5)

 

Alkitab menjelaskan bahwa Yesus adalah Firman yang kekal, ada Bersama-sama Allah Bapa. Firman Hidup itu menciptakan segala sesuatu yang ada. Firman hidup yang kekal itu adalah firman yang berinkarnasi, menjadi sama dengan manusia, bahkan mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia.

Yohanes dalam Injilnya mengatakan, kegelapan tidak menguasai terang, artinya, apapun yang terjadi dalam hidup ini, meski kegelapan berusaha menutupi manusia agar tidak dapat melihat Terang Hidup, kegelapan tak mampu menutupi terang. Terang masih bersinar!

Kegelapan memang berusaha menutupi siapapun agar tidak dapat melihat terang, itulah sebabnya Alkitab mengatakan, Yesus datang kepada milik kepunyaan-Nya, tapi milik kepunyaan-Nya itu tidak menerimanya.

Natal memberikan kabar gembira, Allah merasakan penderitaan manusia berada dalam belenggu dosa. Tidak hanya itu, Proklamasi kasih Allah secara nyata terlihat pada pengorbanan Yesus di salib untuk menebus dosa manusia.

Iblis menyangka Yesus kalah Ketika manusia menyalibkan Yesus, tapi iblis salah, justru darah Yesus yang tercurah di kayu salib itu telah membebaskan belenggu dosa, usaha iblis membelenggu manusia telah berakhir di salib. Iblis sudah kalah!

Tapi mengapa masih saja ada yang tak mampu melihat terang Kristus, kejadian itu juga terjadi pada saat Yesus ada di dunia. Yohanes sendiri menyaksikan tentang Yesus, tapi mereka memenjarakan Yohanes yang menyaksikan Yesus, bahkan mati sebagai martir Kristus.

Saat kita merayakan Natal, kita sedang melihat terang, kita melihat terang masih bersinar, karena itu teruslah mengikuti Terang Kristus. Pada sisi lain, kegelapan tidak tinggal diam, kegelapan bekerja semakin keras, menutupi mereka yang terbelenggu iblis untuk tidak dapat melihat terang.

Percayalah, sebagaimana kitab isa melihat terang oleh anugerah Allah, maka kita perlu menyaksikan terang itu meski respon terhadap terang itu tak selalu menerimanya. Terang masih bersinar.


https://www.binsarhutabarat.com/2022/12/yesus-terang-hidup-sumber-kehidupan.html

Saturday, December 3, 2022

Selamat Natal, Terang Masih Bersinar

 Thema:  Terang Masih Bersinar!  (Yohanes 1:9)

Sub Thema: Terimalah Terang Kristus dan Jadilah Anak-anak Allah! 




Natal merupakan berita tentang Inkarnasi Firman menjadi manusia. Firman sumber terang dan kehidupan itu hadir mengusir kegelapan dalam dunia, memberikan pengharapan hidup kekal pada manusia yang hidup dalam kegelapan dan tanpa harapan.


Terang Masih Bersinar

Alkitab melaporkan, “gelap gulita menutupi samudera raya” (Kejadian 1:2). Alkitab lebih lanjut menjelaskan, Berfirmanlah Allah, “jadilah terang.” Lalu terang itu jadi. Firman menghadirkan terang di  bumi, proses penciptaan kehidupan terjadi. Semua yang diciptakan Allah baik adanya.

Kejahatan hadir di Eden karena Adam dan Hawa mengingkari kebergantungannya pada Allah. Adam dan Hawa menolak Allah yang berdaulat di Eden. Mereka memproklamasikan kedaulatan manusia, sekaligus menyatakan ketundukan pada kegelapan di Eden. Tapi, syukurlah Oleh karena kasihNya, Allah mengusir Adam dan Hawa dari Eden. Adam dan Hawa tak harus mengalami kematian kekal jika memakan buah pohon kehidupan.

Kegelapan menguasai dunia, seluruh mahkluk meratapi penderitaan berada dalam kuasa kegelapan. Adan dan Hawa melepaskan otoritas Allah dengan menundukkan diri pada kegelapan. 

Allah menjanjikan terang untuk mengusir kegelapan dan  mengalahkan maut. Terang yang menelan kegelapan itu hadir pada saat Natal. Kelahiran Yesus Kristus. Dunia yang berada dalam kegelapan telah melihat terang Kristus saat Natal (Yohanes 1:9). 

Darah Yesus menjadi tebusan bagi manusia yang berada dalam belenggu kegelapan. Mereka yang percaya pada pengorbanan Yesus di salib telah menerima terang Kristus, menjadi anak-anak Allah. Terang Masih Bersinar!


Kegelapan sudah kalah (Yohanes 1:5)

Kegelapan berusaha membinasakan Terang Kristus, tapi penyaliban Yesus justru merupakan proklamasi kekalahan kegelapan. Penyaliban Yesus menelan kegalapan,  kematian dan kebangkitan Kristus membuktikan kegelapan tidak dapat menguasai terang (Yohanes 1:5), terang Kristus kian bersinar. Itulah sebabnya iblis berteriak ketakutan pada saat darah Yesus tercurah di kayu salib.

Pertarungan antara gelap dan terang masih berlangsung hingga saat ini.  Pertarungan itu akan berhenti saat Yesus datang sebagai raja untuk menghakimi bumi. Pertarungan gelap dan terang makin menjadi-jadi pada hari-hari terakhir.Iblis dan roh-roh jahat kian kalap menantikan hari terakhir.

Kegelapan tak pernah tinggal diam, kegelapan terus berusaha menguatkan belenggunya agar mereka yang terbelenggu itu merasa nyaman menikmati kegelapan, atau merasa takut membebaskan diri dari belenggu kegelapan dengan berbagai tipu muslihat iblis dan roh-roh jahat. 


Sang Terang, akan datang

Pada saat yang sama mereka yang hidup dalam terang belum melihat terang yang sempurna . Mereka yang hidup dalam terang itu masih menantikan kehadiran terang yang sempurna di surga kekal.

Mereka yang menerima terang itu perlu terus bergantung pada Kristus dalam penguasaan Roh Kudus. Itulah sebabnya Alkitab mengingatkan agar berjaga-jaga, dan melawan iblis dan roh-roh jahat. 

Dalam kemenangan Kristus, mereka yang menerima terang itu mengalami pertarungan yang tampaknya mengerikan, tapi kemenangan Kristus akan menjaga mereka dari terkaman si jahat. 

Kristus telah membuat iblis dan roh-roh jahat ibarat singa ompong dengan aum-nya yang tetap menakutkan, tapi tak mampu menerkam mereka yang berada dalam terang Kristus.

Kegelapan yang kalap menantikan hari akhir itu, berusaha meghabisi siapa saja. Tapi, kegalapan itu sudah kalah. Kegelapan tidak bisa berbuat semena-mena. Terang itu telah menelan kegelapan, mereka yang dalam terang terluput dari amukan iblis dan roh-roh jahat. Terang Masih Bersinar!

Selamat Menyambut Natal!

Anti Kristus Jaman Now

  Anti Kristus Jaman Now: PGI, PGLII, PGPI, Aras Nasional Gereja Perlu Waspada!   Gereja pada awalnya adalah sebuah komunitas misioner...