Monday, February 26, 2024

Satu Tuhan Banyak Agama

 Satu Tuhan Banyak Agama





Keyakinan terhadap adanya Tuhan Pencipta Langit, Bumi dan segala isinya ada pada semua agama, itulah sebabnya, ketika sila ketuhanan yang maha esa di tetapkan sebagai sila pertama dalam Pancasila, tak ada agama-agama atau kepercayaan di Indonesia yang menolaknya.

 Masyarakat Indonesia percaya adanya Tuhan yang esa dalam berbagai bentuk interpretasi. Agama-agama suku yang beragam di Indonesia dapat menerimanya.

Klaim agama-agama tentang Tuhan yang benar yang transenden serta jalan keselamatan yang ditawarkannya, merupakan interpretasi individu atau kelompok agama tertentu, dan negara tidak campur tangan menentukan agama yang benar dan tidak, karena negara tidak berteologi. 

Interpretasi agama akan Yang Maha Esa itu benar menurut keyakinan individu atau kelompok, tentunya sesuai kaidah penafsiran yang diterima komunitas agama itu. 

Rumusan keyakinan tentang Tuhan itu sah-sah saja untuk diajarkan kepada generasi penerus individu atau kelompok-kelompok agama itu. Apalagi itu dilindungi oleh undang-undang hak asasi manusia.

Demikian juga klaim agama-agama yang mendasarinya pada wahyu, atau keyakinan bahwa Allah yang transenden, yang tak dapat dijangkau dengan akal budi itu telah mewahyukan dirinya untuk dikenal oleh manusia yang tidak dapat menghampiri Tuhan, benar dalam keunikan agama-agama.

Interpretasi agama-agama Wahyu yang mendasari rumusan doktrin agama berdasarkan kitab-kitab suci yang diwahyukan itu benar dan unik. 

Dikatakan benar karena memang interpretasi itu memenuhi kaidah penafsiran pada kelomok agama tertentu. Dikatakan unik, karena interpretasi itu hanya berlaku untuk keyakinan agama tertentu yang berada dalam kelompok tertentu.

Kita tentu paham bahwa  dalam satu agama-agama  wahyu bisa terdiri dari banyak kelompok yang berbeda yang biasa disebut sekte atau aliran-aliran tertentu. Karena itu kita bisa menyimpulkan, bahwa dalam Pancasila kita mengakui adanya Satu Tuhan dalam interpretasi banyak agama dan aliran agama-agama. 


Satu Agama Kristen dan Keragaman Denominasi

Keragaman interpretasi terhadap Tuhan yang satu yang telah mewahyukan diri-Nya adalah realitas dalam agama Kristen. Kristen Protestan, Katolik merupakan dua aliran besar dalam kekristenan.

Dirjen Bimas Kristen mendaftarkan ada 13 aras nasional dalam agama Kristen. Berarti setidaknya ada tiga belas kelompok aliran dalam satu agama Kristen. itu pun di luar Katolik yang memiliki Direktur Jenderal tersendiri dalam Kementerian Agama RI.

Sejarah pertarungan antar kelompok atau aliran dalam agama Kristen menyisakan pertanyaan besar, mengapa kelompok -kelompok itu tega menghabisi sesamannya, yang juga sesama ciptaan Tuhan. 

Bisa jadi itu mungkin terjadi karena klaim absolut interpretasi kelompok-kelompok. Pengakuan iman dalam Kristen yang diperlukan untuk menyatukan umat Kristen, telah menjadi instrumen untuk melegalkan deskriminasi dan penganiayaan terhadap sesamanya. Dengan alasan memurnikan agama dari para penyesat, deskriminasi dan kekerasan terhadap yang berbeda dilegalkan.

Parahnya lagi, aliran-aliran dan kekristenan itu kemudian menggunakan tangan negara untuk menjaga eksistensi kelompok mereka, bahkan lebih jauh lagi  ada yang berusaha menguasai negara untuk mendapatkan hak khusus dalam negara agar eksistensi aliran itu terjamin.

Menurut saya,sudah waktunya kelompok, aliran, atau denominasi Kristen menyadari bahwa pengakuan iman bukan instrumen untuk menegasikan yang lain, apalagi untuk melakukan kekerasan pada yang berbeda. Pengakuan iman sepatutnya menjadi instrument untuk menyatukan umat Kristen.

Persatuan umat Kristen itu penting untuk menjadi dasar persatuan dan perdamaian dunia. Kekristenan bertanggungkawab untuk mengusahakan kehidupan yang adil, damai dan sejahtera.

 Selanjutnya klaim interpretasi yang paling benar, absolut, atau paling mendekati kebenaran tak perlu dipaksakan. Bukankah klaim kita atas interpretasi terhadap Alkitab, yang kemudiaan dirumuskan menjadi doktrin atau kemudian di dogmakan hanya benar sebatas argumentasi atau data yang kita miliki? Pada sisi lain tak ada individua atau kelompok yang tahu akan segala sessuatu.

Pengakuan Satu Tuhan banyak Agama bukan usaha merelatifkan segala sesuatu, tetapi karena kita tentu setujua yang absolut hanyalah Tuhan, maka semua manusia tidak boleh mengklaim diri memiliki pengetahuan yang absolut tentang Tuhan. 

Interpretasi manusia tentang Tuhan terbatas, dan interpretasi itu benar sebatas bukti-bukti yang memberikan dukungan terhadap interpretasi itu.

Interpretasi agama memang mempunyai kepastian dalam setiap individu yang menghidupi keyakinan agama itu, mereka memiliki pengalaman yang nyata tentang pengalaman dengan Tuhan, mulai dari hidup yang diperbaharui, ,mendengar suara Tuhan, mengalami kesembuhan dari sakit penyaki dll. Tapi meski keyakinan itu memiliki kepastian karena menjadi pengalaman subyektif, atau pengalaman individu, itu tidak dapatdigeneralisasikan.

Perlu Buku, Klik Disini!


http://www.binsarinstitute.id/2023/02/satu-tuhan-banyak-agama.html
 https://linktr.ee/BinsarAntoniHutabarat
www.binsarinstitute.id
www.binsarinstitute.com
www.siarbatavianews.com
https://institute.siarbatavianews.com
https://www.facebook.com/binsarinstitut

 

https://www.binsarinstitute.id/2023/02/satu-tuhan-banyak-agama.html 


Beragama itu memuliakan sang pencipta dan sesama




http://dlvr.it/T3FTtP

Friday, February 23, 2024

Tuhan akan memberikan balasan atas segala sesuatu yang kita kerjakan




http://dlvr.it/T37lHs

Dedikasi sang penulis




 Menulis adalah mempublikasikan apa yang kita tahu, kuasai dan perlu berguna untuk banyak orang, masyarakat, negara. Publikasi tulisan mestinya dilandasi semangat untuk meningkatkan kesejahteraan bersama. Itulah sebabnya menulis adalah mencipta.


Dedikasi sang penulis

Sebagai seorang cendikiawan yang kerap mengajar, meneliti dan selanjutnya menerapkan ilmu itu bagi kesejahteraan masyarakat, menulis merupakan sebuah dedikasi. 

Menulis bukan sekadar mendapatkan angka kredit untuk kepangkatan seorang dosen, atau mendapat kelulusan bagi mahasiswa. Menulis pada konteks itu merupakan bakti seorang cendikiawan.

Menulis itu mencipta

Menulis menjadi tak banyak gunanya ketika yang dituliskan adalah karya orang lain, biasa disebut plagiasi, ini tentu tak ada yang baru.

 Tapi untuk memenuhi hasrat mendapatkan jabatan guru besar misalnya, atau kepangkatan yang berada dibawahnya, tak sedikit yang rela membayar, dan menghadirkan sebuah tulisan yang tak ada kebaruannya.

Parahnya lagi pengelola jurnal rela melacurkan diri untuk meraup keuntungan, dan tak peduli apakah kontribusi kecendikiawanan dari jurnal ilmiah yang dikelola, biasa disebut jurnal predator.


Penghargaan kepada penulis.

Jika menulis adalah mencipta, menghadirkan sebuah karya baru, maka perlu ada pengakuan hak cipta. Jika kita menulis blog, dan tulisan kita itu diikuti oleh iklan, mestinya penulis bukan hanya mendapatkan honor dari iklan, tetapi pemuat blog dalam hal ini google misalnya  harus membayar kepada penulis. 

Apa bedanya menulis yang mencipta dengan seorang penyanyi yang mencipta lagu? pencipta lagu menuliskan karangannya dan kemudian menjadikan lagu yang dinikmati banyak orang. Penulis mempublikasikan pengetahuannya untuk mencerahkan pemikiran dan kehidupan banyak orang.

Menurut saya, pemerintah Indonesia perlu menghadirkan kebijakan publik yang adil dan memberikan keadilan untuk semua, termasuk dalam hal ini keadilan untuk  penulis yang adalah pencipta. Publikasi  pengetahuan penulis perlu dihargai sebagaimana juga publikasi lainnya.


Bagaimana menurut anda, silahkan memberi komentar yang membangun.

https://www.binsarinstitute.id/2024/02/dedikasi-sang-penulis.html

Saksi-Saksi Iman Sepanjang Sejarah

  Saksi-Saksi iman Ibrani 11:1-6, Kejadian 4 : 26, Kejadian 5: 21-23   Pendahuluan. Kitab Ibrani pasal 11 secara runtut menjelaska...